Dari Kartini ke Sakti Trimurti: Panggilan untuk Wanita Menjadi Mitra Sejajar yang Sakti

Dari Kartini ke Sakti Trimurti: Panggilan untuk Wanita Menjadi Mitra Sejajar yang Sakti


Oleh: Ki Kakua, Gunungsiku 17-04-26

Om Swastyastu 

Pembuka: Melampaui Romantisme Hari Kartini

Setiap 21 April, nama Raden Ajeng Kartini kembali menggema. Potretnya menghiasi spanduk, lagu "Ibu Kita Kartini" berkumandang, dan perempuan-perempuan diminta untuk "meneladani Kartini". Namun, seringkali peringatan ini hanya berhenti pada seremoni. Kita bangga pada Kartini, tapi kita lupa bertanya: apa sebenarnya ajaran yang ia wariskan?

Tulisan ini tidak bermaksud memuja Kartini sebagai pahlawan yang tak tersentuh. Sebaliknya, kita akan menggali ajarannya yang sering teredam. Lalu, kita akan menghubungkannya dengan sebuah konsep kuno namun dalam dari tradisi Hindu: Sakti Trimurti. Dua ajaran ini, dari zaman dan latar berbeda, ternyata berbisik serempak: bahwa perempuan adalah mitra sejajar, dan kekuatan itu – yang disebut sakti – layak dihidupi oleh setiap wanita.

Inilah panggilannya: dari Kartini menuju pemahaman Sakti Trimurti, untuk wanita masa kini yang berani menjadi mitra sejajar yang sakti.

Bagian 1: Ajaran Kartini yang Sering Terlewat

Kartini bukan sekadar simbol "perempuan boleh sekolah". Ia adalah kritikus sosial yang tajam. Dalam surat-suratnya, ia menulis dengan gamblang tentang penderitaan batin karena dibelenggu adat: "Kami, gadis-gadis masih terantai kepada adat istiadat lama, hanya sedikitlah memperoleh bahagia dari kemajuan pengajaran itu. Kami anak perempuan pergi belajar ke sekolah, keluar rumah tiap-tiap hari, demikian itu saja sudah dikatakan amat melanggar adat".

Kartini tidak sekadar ingin sekolah. Ia merindukan akses ke pengetahuan dunia, seperti yang ia curahkan: "Dengan seluruh jiwa saya, saya ingin pandai berbahasa yang lain-lain itu... supaya dapat membaca buah pikiran penulis-penulis bangsa asing itu".

Namun, yang terpenting, ia menolak anggapan bahwa pendidikan perempuan bertujuan menjadi saingan laki-laki. Dalam suratnya tertanggal 4 Oktober 1902, ia menegaskan: "Apabila kami di sini minta, ya mohon, mohon dengan sangat supaya diusahakan pengajaran dan pendidikan bagi anak-anak perempuan, bukanlah karena kami hendak menjadikan anak-anak perempuan menjadi saingan orang laki-laki dalam perjuangan hidup ini". Tujuannya mulia: "Kami hendak menjadikan perempuan menjadi lebih cakap dalam melakukan tugas besar yang diletakkan oleh Ibu Alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik umat manusia yang utama".

Kartini juga dengan tegas menginginkan kesetaraan dalam keluarga. Dalam suratnya kepada Stella pada 23 Agustus 1900, ia bertekad: "Pertama-tama akan saya hapuskan adat kebiasaan yang buruk yang lebih menguntungkan anak laki-laki daripada anak perempuan... Saya akan mengajar anak-anak saya baik laki-laki maupun perempuan untuk saling memandang sebagai makhluk yang sama".

Nah, ajaran inilah yang akan kita temukan lagi dalam konsep Sakti Trimurti.

Bagian 2: Mengenal Sakti Trimurti: Ajaran Hindu tentang Kekuatan Feminin

Dalam ajaran Hindu, khususnya yang hidup subur di Bali, Tuhan Yang Maha Esa (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) bermanifestasi dalam tiga sosok utama yang disebut Trimurti: Brahma (pencipta), Wisnu (pemelihara), dan Siwa (pelebur). Namun, ada satu prinsip mendasar yang sering luput dari pemahaman dangkal: setiap dewa memiliki pasangan feminin yang disebut Sakti – sebuah kata dalam bahasa Sanskerta yang berarti "kekuatan", "energi", atau "daya".

Ketiga Sakti dari Trimurti ini adalah:

· Dewi Saraswati, Sakti dari Brahma. Beliau adalah dewi pengetahuan, seni, musik, dan kebijaksanaan. Dalam lontar-lontar Bali, Saraswati disebut sebagai ibu dari Weda (kitab suci), yang memegang keropak (lontar) sebagai simbol ilmu yang tak pernah habis.

· Dewi Sri (dikenal pula sebagai Laksmi), Sakti dari Wisnu. Beliau adalah dewi kemakmuran, kesuburan, keberuntungan, dan kesejahteraan. Di Bali, pemujaan kepada Dewi Sri sangat kuat, terutama dalam konteks pertanian dan kehidupan sehari-hari.

· Dewi Parvati (dalam wujudnya sebagai Durga), Sakti dari Siwa. Beliau adalah dewi cinta, kesetiaan, pengabdian, sekaligus kekuatan yang mampu menghancurkan kezaliman. Dalam manifestasinya sebagai Durga, ia melambangkan keberanian dan perlindungan.

Poin filosofis yang luar biasa dari ajaran ini adalah: seorang dewa tidak dapat berbuat apa-apa tanpa Saktinya. Bukan karena dewa lemah, tetapi karena energi feminin adalah penggerak segala realitas. Tanpa Saraswati, Brahma tidak bisa mencipta yang bermakna. Tanpa Sri, Wisnu tidak bisa memelihara kesejahteraan. Tanpa Parvati, Siwa hanyalah aspek pelebur yang dingin tanpa cinta.

Lebih dalam lagi, dalam teks-teks Hindu, Tuhan Yang Maha Esa sering disimbolkan sebagai Ardhanaresvari – setengah laki-laki, setengah perempuan, dalam satu kesatuan utuh. Ini mengajarkan bahwa maskulin dan feminin bukanlah dua entitas yang terpisah apalagi bertingkat, melainkan dua sisi dari satu realitas ilahi.

Ajaran inilah yang kemudian membentuk etika sosial di masyarakat Hindu Bali. Konsep Sakti mengajarkan bahwa laki-laki dan perempuan adalah mitra sejajar. Tidak ada yang lebih tinggi. Yang ada adalah saling melengkapi. Dalam kehidupan sehari-hari, filosofi ini terlihat dalam kerja sama di ranah domestik, di subak (sistem irigasi sawah), hingga dalam kepemimpinan komunitas.

Maka, Sakti Trimurti bukanlah sekadar cerita dewa-dewi. Ia adalah ajaran teologis yang menegaskan kesetaraan kodrati – sebuah fondasi yang sayangnya kadang terlupakan dalam praktik, tetapi tetap hidup sebagai cita-cita luhur.

Bagian 3: Titik Temu – Ketika Kartini Bertemu Sakti Trimurti

Mari kita hubungkan ajaran Kartini dengan tiga wujud Sakti. Hasilnya sungguh selaras.

Pertama, ajaran Kartini bahwa perempuan harus berpendidikan, cerdas, dan berilmu – ini sejalan dengan wujud Dewi Saraswati. Dalam tradisi Hindu, Dewi Saraswati adalah ibu dari Weda dan dewi kebijaksanaan. Ilmu adalah kekuatan (sakti) pertama perempuan. Tanpa ilmu, perempuan mudah dibodohi dan dikuasai. Kartini sendiri menegaskan: "Perempuan yang pikirannya telah dicerdaskan, pemandangannya telah diperluas, tak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya".

Kedua, ajaran Kartini bahwa perempuan harus mandiri secara ekonomi, tidak sekadar ibu rumah tangga – ini sejalan dengan wujud Dewi Sri. Dewi Sri adalah dewi kemakmuran dan kesuburan, yang secara luas dipuja di masyarakat agraris sebagai simbol kesejahteraan. Kemakmuran adalah sakti pemeliharaan. Perempuan berhak menciptakan kesejahteraan untuk diri dan masyarakat. Hal ini tercermin dalam data bahwa di Bali saat ini, sekitar 60 persen pelaku wirausaha adalah perempuan.

Ketiga, ajaran Kartini bahwa perempuan berhak menolak ketidakadilan dan berani bersuara – ini sejalan dengan wujud Dewi Parvati (Durga). Cinta bukan berarti lemah. Parvati menunjukkan bahwa keberanian melawan kezaliman adalah wujud sakti tertinggi. Kartini sendiri adalah bukti nyata keberanian ini, menulis dengan lantang: "Tapi apa yang benar adalah benar dan yang adil harus tetap adil". Ia bahkan menyerukan: "Sebuah awal akan dibuat untuk mengakhiri ketidakadilan besar yang telah membuat hati ribuan perempuan dan anak-anak berdarah".

Dengan demikian, Kartini mengajarkan secara sosial-politik apa yang diajarkan secara kosmis oleh Sakti Trimurti: bahwa laki-laki dan perempuan adalah mitra sejajar, dan kekuatan perempuan (sakti) bukanlah pemberian laki-laki, melainkan kodrat ilahi.

Maka, menjadi "perempuan sakti" dalam kerangka ini bukanlah menjadi galak atau dominan. Menjadi sakti adalah menjadi versi terbaik dari diri sendiri: cerdas (Saraswati), sejahtera (Sri), dan berani (Parvati).

Bagian 4: Panggilan untuk Wanita Masa Kini

Apa artinya semua ini bagi wanita Indonesia hari ini, di tengah gemuruh kesetaraan dan juga tantangan patriarki yang masih tersisa?

Pertama, ambil peran seperti Kartini dengan menjadi perempuan yang terus belajar. Dewi Saraswati tidak pernah usang. Di era informasi, akses pendidikan begitu luas. Seperti pesan Kartini, "Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan dididik baik-baik". Setiap buku yang dibaca, setiap kursus yang diikuti, adalah wujud nyata dari sakti ilmu.

Kedua, ciptakan kemakmuran. Dewi Sri mengingatkan bahwa perempuan tidak perlu malu untuk sukses secara finansial. Bekerja, berwirausaha, mengelola keuangan – itu semua adalah bagian dari sakti pemeliharaan. Keluarga yang makmur tidak hanya ditopang laki-laki, tetapi hasil kerja sama mitra sejajar.

Ketiga, jadilah berani. Parvati tidak hanya lembut, ia juga Durga saat keadilan terinjak. Wanita masa kini perlu berani menolak kekerasan, berani melaporkan pelecehan, berani memimpin, dan berani berbicara di ruang publik. Itu bukan "melawan kodrat", itu justru menghidupkan sakti sejati

Penutup: Bukan Sekadar Peringatan, Tapi Gerakan

Hari Kartini bukanlah tentang memajang foto seorang bangsawan Jepara. Konsep Sakti Trimurti bukanlah sekadar cerita puja-pujian di pura. Keduanya adalah panggilan yang sama: bahwa wanita diciptakan setara, bahwa kekuatan feminin adalah energi yang menggerakkan dunia, dan bahwa menjadi mitra sejajar bukanlah anugerah, melainkan hak kodrati.

Maka, rayakan Hari Kartini dengan cara yang berbeda: bangkitkan Saktimu. Belajarlah seperti Saraswati. Sejahteralah seperti Sri. Beranilah seperti Parvati. Dan lakukan semua itu bukan untuk mengalahkan laki-laki, tetapi untuk berjalan berdampingan – karena peradaban yang utuh hanya mungkin ketika kedua mitra sejajar itu sama-sama sakti.

Seperti pesan Kartini yang abadi: "Habis gelap terbitlah terang". Dan terang itu, bagi setiap wanita, adalah kesadarannya bahwa dirinya sakti sejak lahir. Tugas kita hanya satu: menghidupkannya.

Selamat Hari Kartini. Jadilah perempuan sakti.

Om Shanti Shanti Shanti Om

Komentar