Ngelinggihang: Proses Menstanakan Roh Leluhur dan Lahirnya Istilah Nilapati

Ngelinggihang: Proses Menstanakan Roh Leluhur dan Lahirnya Istilah Nilapati

Oleh : Ki Kakua, Gunungsiku 30 April 2026

Om Swastyastu 

Dalam tradisi Pitra Yadnya di Bali, puncak dari rangkaian upacara kematian adalah ketika roh leluhur berhasil “ditempatkan” (distanakan) di tempat yang semestinya. Prosesi ini disebut Ngelinggihang. Di kalangan masyarakat modern, rangkaian ini ada yang menyebut dengan istilah teknis Nilapati, padahal nama tersebut tidak ditemukan secara harfiah dalam sastra lontar klasik.

Dasar Sastra: Bukan Nilapati, Melainkan Ngunggahang Dewa Pitara 

Naskah-naskah kuno seperti Lontar Pitutur Lebur Gangsa dan Lontar Sang Hyang Lebur Gangsa tidak pernah menulis kata “Nilapati”. Yang tertulis adalah frasa deskriptif:

“...muwang ngunggahang dewa pitara ring ibu dengen ring kamulan.”

Artinya: menempatkan/memuliakan roh suci leluhur di tempat asalnya (ibu dengen dan kamulan). Istilah lain yang muncul di lontar adalah Dewa Pratistha (menegakkan dewa). Jadi, secara sastra, proses inti dari upacara ini adalah ngelinggihang atau ngunggahang, bukan nilapati.

Lalu dari Mana Istilah Nilapati?

Istilah Nilapati adalah sebutan baru yang diberikan oleh para sulinggih dan cendekiawan Hindu di kemudian hari. Mereka membutuhkan suatu nama yang bisa mewakili keseluruhan rangkaian upacara panjang yang meliputi pembayaran hutang karma (danda), pembersihan dosa-dosa leluhur, dan puncaknya menempatkan (ngelinggihang) roh suci di Pelinggih Rong Telu.

Secara etimologis, Nilapati diartikan sebagai “menuju kekosongan tertinggi yang mulia” (nila = sunia/kosong atau noda hitam; pati = raja/agung). Namun, istilah ini tidak berakar langsung dari teks lontar, melainkan dari praktik dan interpretasi teologis.

Perbedaan Krusial: Pitara vs Dewa Hyang

Di masyarakat Bali, sering terjadi kekeliruan dengan menyamakan kedua status ini. Padahal, perbedaannya sangat tegas dan berpengaruh pada di mana roh tersebut boleh distanakan serta bagaimana ia dipuja.

Pitara adalah status yang dicapai langsung setelah upacara Ngaben (Pitra Yadnya). Pada tahap ini, roh telah dimuliakan tetapi proses penyempurnaan ke tingkat yang lebih tinggi belum selesai. Pitara belum boleh distanakan di Pelinggih Rong Telu, dan belum lazim disebut dengan gelar Ida Betara.

Dewa Hyang adalah status yang dicapai setelah upacara Atma Wedana ; Memukur, Nyekah, atau Maligia (di catatan akhir dijelaskan penyebutan arwah). Pada tahap inilah roh suci leluhur telah mencapai kesempurnaan dan kedudukan yang setara dengan para dewa. Dewa Hyang inilah yang berhak ditempatkan (dilinggihang) di Pelinggih Rong Telu pada Sanggah Kemulan, dan layak dipanggil dengan gelar Ida Betara Guru atau Bhatara Hyang.

Maka dari itu, di Bali ditegaskan: “Yang melinggih di Rong Telu adalah setelah menjadi Dewa Hyang.  Pitara belum bisa dilinggihkan di Rong Telu dan belum bisa disebut Ida Betara.”

Rangkaian Ngelinggihang yang Sempurna (yang oleh beberapa agamawan kemudian disebut Nilapati)

Prosesi puncak setelah upacara Meajar-ajar adalah sebagai berikut, dan semua rangkaian ini memiliki dasar sastra dari Lontar Tatwa Kapatian, Purwa Bhumi Kamulan, serta lontar lainnya.

Pertama, Daksina Linggih ditempelkan tiga kali di pelinggih Rong Telu. Angka tiga melambangkan Tri Angga (dunia bawah, tengah, atas) sekaligus sebagai simbol pengukuhan roh di tempat yang baru. Kedua, dilakukan prosesi Ngelinggihang Dewa Hyang di tempat yang tetap – inilah inti dari Dewa Pratistha. Ketiga, setelah diyakini roh telah bersemayam, Daksina Linggih kemudian dipralina (dibakar). Tindakan ini adalah simbol pelepasan bentuk fisik, mengingatkan bahwa roh telah lepas dari ikatan materi. Keempat, abu hasil pembakaran ditanam di belakang pelinggih Rong Telu. Penanaman abu ini melambangkan bahwa roh telah kembali ke asal (sunia), menyatu dengan alam semesta menuju Sang Pencipta (Moksha).

Kesimpulan

Secara sastra lontar, prosesi ini disebut Ngunggahang Dewa Pitara atau Dewa Pratistha – tujuannya menempatkan roh suci leluhur di Pelinggih Kamulan. Istilah Nilapati tidak tertulis dalam lontar; ini adalah nama teknis modern yang lahir dari praktik dan pemikiran teologis para sulinggih serta akademisi Bali.

Perbedaan status sangat penting: Pitara (setelah Ngaben) belum boleh distanakan di Rong Telu dan belum bisa disebut Ida Betara. Yang distanakan di Rong Telu dan dipanggil Ida Betara atau Bhatara Hyang adalah Dewa Hyang (setelah Memukur).

Om Shanti Shanti Shanti Om

Catatata :

Dalam tradisi Hindu di Bali, penyebutan arwah sang hyang Atma atau berubah sesuai dengan tingkatan upacara Atma Wedana (penyucian roh setelah Ngaben) yang dilaksanakan. 
Berdasarkan Lontar Siwa Tattwa Purana, berikut adalah tingkatan upacara Atma Wedana dan sebutan arwahnya: 
  • Ngangsen (Tingkat Sederhana/Nista): Arwah disebut Sang Hyang Pitara.
  • Nyekah (Tingkat Madya): Arwah disebut Sang Dewa Pitara.
  • Memukur (Tingkat Utama/Utamaning Utama): Arwah disebut Pita Widhi (sering juga disebut Dewa Hyang/Dewa Pitara).
  • Meligia: Arwah disebut Widhi Wasa Pitra.
  • Ngeluwer (Tingkat Tertinggi): Arwah disebut Acintya Parama Wadya Pitra.
Catatan tambahan:
  • Setelah semua prosesi diselesaikan, roh tersebut akhirnya disebut Bhatara Guru dan distanakan di Sanggah Kemulan.
  • Tujuan utama rangkaian ini adalah meningkatkan status arwah dari Preta (saat baru meninggal) menjadi Pitra, lalu Dewa Pitara, hingga mencapai Dewa Hyang. 
daftar pustaka 
dikelompokkan dalam kategori Lontar (Naskah Kuno), Jurnal, Buku, dan Artikel Online sebagai sumber referensi.

---

📜 A. Lontar (Naskah Kuno)

1. Lontar Pitutur Lebur Gangsa. Berisi ajaran tentang upacara Ngunggahang Dewa Pitara dalam proses penyempurnaan roh leluhur. Dalam lontar ini dinyatakan: “muwang ngunggahang dewa pitara ring ibu dengen ring kamulan”.
2. Lontar Sang Hyang Lebur Gangsa. Menjelaskan tentang sarana upacara (banten penyuda mala) untuk menghapus kekotoran Pitra serta menegaskan “angunggahaken Dewa Pitara ring ibu dengen muang ring Kamulan ngaran”.
3. Lontar Purwa Bhumi Kamulan. Menjelaskan bahwa setelah Upacara Atma Wedana (seperti Nyekah, Memukur, atau Maligia), Atman disebut Dewa Pitara dan selanjutnya distanakan di Kamulan Taksu. Lontar ini menjadi salah satu sumber utama dalam pelaksanaan upacara Ngelinggihang Dewa Hyang.
4. Lontar Tatwa Kapatian. Memuat tuntunan tentang proses ngelinggihang (menstanakan) roh leluhur di Sanggah Kamulan, termasuk pembagian posisi berdasarkan jenis kelamin. Mengisyaratkan bahwa tanpa upacara penyempurnaan, Atma hanya mendapat tempat di Batur Kamulan.
5. Lontar Yama Purwa Tattwa. Menegaskan pentingnya upacara memukur sebagai syarat rohani agar Atma dapat mencapai alam sorga. Kutipan dalam teks Kawi: “Yan sampun kalaksanang śarīra ning sawa, tan hana pwa tan pamukurannya, mangkana sang ātmā tan prasida lumampah ring swarga.” (Apabila jasad orang mati telah diaben, tetapi belum dilakukan pemukurannya, maka atma itu belum dapat berjalan menuju alam sorga).
6. Lontar Gong Wesi (atau Gong Besi). Tergolong lontar tutur yang bersifat Siwaistik, kemungkinan besar ditulis di Bali. Berisi ajaran tentang konsep ketuhanan dan pemujaan Sang Hyang Atma sebagai Batara Hyang Guru, serta konsep Tri Utpeti-Sthiti-Pralina yang menjadi dasar pelepasan simbol upacara.
7. Lontar Gayatri. Menyebutkan tingkatan roh secara berurutan: saat meninggal disebut Preta, setelah upacara Ngaben disebut Pitra, dan setelah upacara Atma Wedana (Memukur/Nyekah) disebut Dewa Pitara.
8. Lontar Ithi Prakerthi. Berisi arahan Mpu Kuturan tentang kewajiban setiap rumah tangga Hindu di Bali untuk memiliki Sanggah Kamulan.
9. Lontar Usana Dewa. Memuat ajaran yang berkaitan dengan Siwatma yang distanakan di Kamulan sebagai salah satu unsur Batara Hyang Guru, serta konsep pralina.
10. Lontar Prastanika Parwa (Parwa ke-17 dari kitab Mahabharata). Menyatakan: “Mapurwa-daksina ta sira, mangastuti ring hyang paramārtha.” (Mereka melakukan purwa daksina, sebagai pujian kepada Hyang Yang Maha Tinggi).

---

📚 B. Jurnal dan Karya Ilmiah

1. Widyawati, Anak Agung Ayu Alit. Upacara Nilapati di Kabupaten Gianyar: Perspektif Teologi Pembebasan. Tesis Magister, Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar, 2006. 
   · Keterangan: Mengkaji upacara Nilapati sebagai ekspresi teologi pembebasan yang tergolong langka dan unik, mencakup bentuk tuntunan dan maknanya.
2. Wisnawa, Dewa Ketut. Hindu Legal Philosophy in Ngelinggihang Dewa Hyang Tradition: A Case Study in Jero Kuta Customary Village. Udayana Journal of Law and Culture, 2021. 
   · Keterangan: Membahas implementasi Ngelinggihang Dewa Hyang di Desa Adat Jero Kuta, dengan sumber hukum Hindu dari Lontar Purwa Bhumi Kamulan dan Manawa Dharmasastra.
3. Seriasih, Ni Wayan. Lontar Yama Purwana Tattwa. Jurnal Widya Sastra Pendidikan Agama Hindu, Vol. 4, No. 1, 2021 (ISSN: 2656-7466). 
   · Keterangan: Analisis mendalam tentang isi Lontar Yama Purwana Tattwa sebagai tuntunan upacara Pitra Yadnya di Bali.
4. Atmadja, Nengah Bawa; Atmadja, Anantawikrama Tungga; Maryati, Tuty. Ngaben + Memukur = Tubuh + Api + Uparengga + Mantra = Dewa Pitara + Surga: Perspektif Teori Sosial Ketubuhan terhadap Ritual Kematian di Bali. Denpasar: Pustaka Larasan. 
   · Keterangan: Buku yang mengkaji ritual kematian Hindu Bali (Ngaben dan Memukur) dari perspektif teori sosial ketubuhan.

---

📖 C. Buku

1. Wiana, I Ketut. Berbakti pada Leluhur: Upacara Pitra Yadnya dan Upacara Nuntun Dewa Hyang. Surabaya: Paramita, 1998 (ISBN: 9799044618).
   · Keterangan: Membahas pemujaan leluhur dalam agama Hindu di Bali, mencakup upacara Pitra Yadnya dan Nuntun Dewa Hyang.
2. Pedanda Gede Prabhawananda Giri, Ida; dkk. Pedoman Pelaksanaan Pitra Yadnya. (ISBN: 978-623-8328-55-0).
   · Keterangan: Buku pedoman yang mencakup tata cara pelaksanaan Pitra Yadnya, termasuk Bab VII khusus tentang Upacara Nilapati.
3. Wikarman, I Nyoman Singgin. Ngaben, Upacara dari Tingkatan Sederhana sampai Utama. Surabaya: Paramita, 2002.  
   · Keterangan: Membahas secara lengkap tentang upacara Ngaben di Bali sebagai bagian dari Pitra Yadnya.
4. Proyek Bantuan Kegiatan Keagamaan/Transmigran dan Pura Luar Bali. Catur-Yadnya: (Bhuta, Manusa, Pitra, Dewa). Denpasar, 1979.
   · Keterangan: Buku yang membahas secara konseptual keempat jenis Yadnya dalam ajaran Hindu, termasuk Pitra Yadnya.

---

🌐 D. Artikel Daring dan Situs Web

1. Kantor Kementerian Agama Kabupaten Karangasem. Peran Aktif Penyuluh dalam Upacara Agama, 27 Juli 2023. Tersedia di: https://kemenagkarangasem.id. 
   · Keterangan: Artikel yang mengutip Lontar Pitutur Lebur Gangsa dan Lontar Sang Hyang Lebur Gangsa terkait upacara ngunggahang dewa pitara.
2. Parisada Hindu Dharma Indonesia. Dasar Tattva Panunggun Karang. Tersedia di: https://phdi.parisada.or.id. 
   · Keterangan: Menjelaskan tentang Pelinggih Kamulan Taksu sebagai tempat memuja Dewa Pitara sebagai Bhatara Hyang Guru, berdasarkan Lontar Purwa Bhumi Kamulan.
3. Suryadistira (Blog Pribadi). Apa Maksud Ngalinggihang Dewa Pitara, 2008. Tersedia di: http://suryadistira.blogspot.com. 
   · Keterangan: Menjelaskan hakikat upacara Ngalinggihang Dewa Pitara sebagai Atmapratistha yang merupakan kelanjutan dari upacara Mamukur.
4. Now! Bali. The Ancestors' Cult, 24 Agustus 2022. Tersedia di: https://www.nowbali.co.id. 
   · Keterangan: Artikel tentang pemujaan leluhur dalam Hindu Bali, mencakup konsep dewa hyang/batara.
5. Tribun Bali. Nilapati, Konsep Menuju Kosong dalam Hindu Bali, 4 Juni 2021. Tersedia di: https://bali.tribunnews.com. 
   · Keterangan: Wawancara dengan Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Putra Sara Shri Satya Jyoti tentang makna filosofis upacara Nilapati.
6. Bali Express. Makna Ngider Buana dalam Ritual Mamukur: Penyelarasan Diri dan Roh Leluhur, 3 Desember 2025. Tersedia di: https://baliexpress.jawapos.com. 
   · Keterangan: Menjelaskan landasan ajaran memukur dari Lontar Yama Purwa Tattwa dengan kutipan teks Kawi dan terjemahannya.
7. Garuda - Garba Rujukan Digital (Kemdikbud). Nilapati Ceremony: Purification of Ancestral Spirits, 2022. Tersedia di: https://garuda.kemdikbud.go.id. 
   · Keterangan: Menguraikan upacara Nilapati berdasarkan Lontar Lebur Sangsa sebagai satu rangkaian dengan Ngalinggihang Dewa Hyang atau Dewa Pitara Pratistha.
8. BALIPOST. Desa Adat Batuan Gelar Upacara Pitra Yadnya, 14 September 2024. Tersedia di: https://www.balipost.com. 
   · Keterangan: Liputan pelaksanaan upacara Nilapati sebagai puncak prosesi Pitra Yadnya di Gianyar, meliputi prosesi pralina daksina linggih.
9. Bali Ilu. Desa Adat Batuan Gelar Prosesi Nyekah Massal lan Nilapati, 13 September 2024. Tersedia di: https://baliilu.com. 
   · Keterangan: Memberikan gambaran detail proses upacara Nilapati, termasuk pembakaran daksina linggih dan penanaman abu di belakang Pelinggih Rong Tiga.

--

Komentar