Cara Melihat yang Berubah: Memahami Cerita Leluhur tentang Dunia Sekala dan Niskala

Cara Melihat yang Berubah: Memahami Cerita Leluhur tentang Dunia Sekala dan Niskala

Ki Kakua, Gunungsiku 11-5-26

Om Swastiastu,

Tulisan ini di buat untuk menjawab pertanyaan semeton, “ Ratu perande ampure titiang Wenten tunasang. Daweg titiang alit dumun sering titiang miragiang orti kocap penyingakan manusene nenten medaging selem, yakti Nike ratu yening yakti napi dasarne. Suksme ratu”

Pembuka,

Setiap Galungan atau piodalan di merajan, ada satu suasana yang sulit digantikan.

Sembahyang telah selesai. Dupa masih menyisakan aroma yang tenang.

Keluarga duduk bersama di bale, tanpa tergesa. Obrolan mengalir ringan, kadang diselingi cerita-cerita lama yang sederhana, tapi selalu punya makna.

Di momen seperti itu, biasanya ada satu cerita yang muncul.

“Dulu, manusia bisa melihat dewa.”

Tidak panjang, tidak rumit. Kadang hanya satu dua kalimat, lalu pembicaraan berlanjut.

Sebagian dari kita mungkin menganggapnya sekadar dongeng. Namun jika direnungkan, cerita singkat itu menyimpan pertanyaan penting:

apa yang sebenarnya berubah—dunia ini, atau cara kita melihatnya?

Kisah yang Dituturkan Leluhur

Jika cerita itu disusun utuh, kira-kira beginilah maksud yang ingin disampaikan.

Dahulu, manusia hidup dalam keadaan yang berbeda dari sekarang. Mereka tidak hanya melihat apa yang tampak—gunung, laut, pepohonan, dan sesama manusia—tetapi juga menyadari keberadaan dunia yang tidak kasatmata. Para dewa, roh leluhur, dan kekuatan alam bukanlah sesuatu yang jauh. Semuanya terasa dekat dan menyatu dengan kehidupan.

Tidak ada batas tegas antara dunia sekala dan niskala.

Dalam cerita para leluhur, manusia saat itu dikisahkan memiliki mata yang seluruhnya hitam. Dengan penglihatan tersebut, manusia dipercaya mampu melihat lebih banyak hal dibandingkan manusia sekarang, termasuk keberadaan para dewa dan dunia niskala.

Namun kemudian manusia mulai melanggar berbagai nilai dan tata kehidupan. Cara berbicara, bersikap, dan berhubungan satu sama lain tidak lagi dijaga dengan baik. Dalam cerita tersebut, para dewa kemudian memberikan pamor pada mata manusia. Dari yang sebelumnya hitam seluruhnya, mata manusia mulai memiliki bagian putih seperti sekarang.

Perubahan itu dipercaya membuat penglihatan manusia menjadi terbatas. Manusia tidak lagi mampu melihat seluruh lapisan kehidupan seperti sebelumnya.

Tentu kisah ini tidak harus dipahami secara harfiah sebagai perubahan fisik manusia. Dalam sudut pandang filosofis, cerita ini lebih dekat sebagai simbol bahwa ketika kesadaran manusia mulai tertutup oleh ego, keinginan, dan kekacauan pikiran, kemampuan untuk memahami kehidupan secara lebih dalam pun ikut berkurang.

Bukan karena dunia niskala menghilang, tetapi karena manusia tidak lagi mampu menyadarinya dengan jernih.

Akhirnya, manusia hanya melihat satu sisi dunia—yang tampak oleh mata.

Namun para leluhur tetap meninggalkan pesan:

jika pikiran kembali jernih dan hati kembali tenang, maka yang tidak terlihat itu tidak benar-benar hilang—ia bisa kembali terasa.

Apa Kata Sastra Hindu?

Gagasan ini memiliki dasar yang kuat dalam ajaran Hindu.

Dalam Bhagavad Gita, Arjuna ingin melihat wujud sejati Kṛṣṇa, tetapi tidak mampu melihatnya dengan mata biasa. Kṛṣṇa kemudian berkata bahwa penglihatan biasa tidak cukup, dan Arjuna diberikan divya cakṣu—penglihatan ilahi.

Pesannya jelas: realitas yang lebih dalam tidak ditangkap oleh mata fisik, melainkan oleh kesadaran.

Hal serupa juga dijelaskan dalam Isha Upanishad, yang menyebut bahwa kebenaran tertutup oleh selubung. Artinya, kebenaran tidak hilang, tetapi tertutup oleh cara manusia memandang.

Di Bali, pemahaman ini hadir dalam konsep sekala dan niskala—dua dimensi yang berbeda, tetapi tidak pernah terpisah. Dunia yang tidak terlihat tetap ada, hanya saja tidak selalu disadari.

Memahami Simbol “Mata

Dengan demikian, cerita tentang manusia yang “bisa melihat dewa” tidak perlu dipahami secara harfiah. Ia adalah simbol dari kondisi batin.

“Mata” dalam cerita itu merujuk pada:

* kejernihan pikiran

* keheningan batin

* kemampuan untuk hadir secara utuh

Ketika manusia hidup dengan kesadaran seperti itu, mereka menjadi lebih peka terhadap kehidupan. Bukan karena dunia berubah, tetapi karena cara mereka memandang tidak terhalang.

Sebaliknya, kehidupan modern sering membuat manusia terdistraksi. Pikiran bergerak cepat, perhatian terpecah, dan kehadiran dalam momen berkurang. Dalam kondisi seperti ini, kemampuan untuk “melihat lebih dalam” pun menjadi lemah.

Bagaimana Sikap Kita terhadap Hal yang Tidak Terlihat?

Di sinilah pentingnya memahami cerita ini dengan seimbang.

Ajaran Hindu Bali tidak mengajarkan umat untuk sibuk mengejar hal-hal gaib, hidup dalam ketakutan, atau merasa lebih tinggi karena mengaku mampu melihat niskala.

Sebaliknya, yang lebih ditekankan adalah menjaga pikiran tetap bersih, perilaku tetap baik, dan hidup tetap seimbang.

Karena itu, tujuan utama spiritual bukanlah mencari sensasi “melihat”, tetapi belajar menjadi manusia yang sadar dan bijak.

Kita diajak untuk:

  • tidak meremehkan hal yang belum kita pahami
  • tetapi juga tidak mudah hanyut oleh ketakutan atau cerita yang berlebihan

Dalam psikologi modern juga dikenal konsep Johari Window, yaitu pembagian pemahaman manusia menjadi beberapa wilayah: ada hal yang diketahui bersama, ada yang diketahui diri sendiri saja, ada yang diketahui orang lain tetapi tidak kita sadari, dan ada pula hal-hal yang belum diketahui oleh siapa pun.

Pemahaman ini mengingatkan bahwa kehidupan memang memiliki sisi yang belum sepenuhnya dipahami manusia. Karena itu, sikap yang bijak bukan merasa paling tahu, tetapi tetap terbuka, rendah hati, dan seimbang dalam menyikapi hal-hal yang belum dapat dijelaskan sepenuhnya.


Pada akhirnya, ukuran kedalaman spiritual bukanlah seberapa banyak seseorang melihat hal gaib, melainkan:

seberapa baik ia menjalani hidup dan memberi manfaat bagi dirinya maupun orang lain.


Bagaimana Pemikiran Barat dan Jepang Melihat Hal yang “Tidak Terlihat”?

Menariknya, sikap yang seimbang terhadap hal-hal yang tidak terlihat ternyata juga ditemukan dalam berbagai pemikiran dunia lain, baik di Barat maupun Jepang.

Di Barat, filsuf Plato melalui konsep Allegory of the Cave menjelaskan bahwa manusia sering kali hanya melihat “bayangan” dari kenyataan. Namun Plato tidak mengajarkan manusia untuk sibuk mengejar hal-hal mistis. Yang lebih penting adalah proses memahami kebenaran melalui kebijaksanaan dan pengendalian diri.

Pemikiran Barat modern juga berkembang ke arah yang mirip. Banyak filsuf dan psikolog menilai bahwa tidak semua hal dalam hidup dapat langsung dilihat atau diukur secara fisik. Cinta, kesadaran, intuisi, ketenangan batin, bahkan makna hidup adalah sesuatu yang tidak terlihat, tetapi nyata dirasakan pengaruhnya. Karena itu, sikap yang sehat bukan menolak semuanya, tetapi juga bukan mempercayai semuanya tanpa kebijaksanaan.

Di Jepang, terutama dalam tradisi Zen dan Shinto, ada pemahaman bahwa kehidupan memiliki kedalaman yang tidak selalu dapat dijelaskan dengan kata-kata atau logika sederhana.

Dalam tradisi Shinto, alam dipercaya memiliki “kehadiran” atau kesucian tertentu. Gunung, pohon tua, sungai, dan tempat-tempat tertentu dihormati bukan karena ditakuti, tetapi karena manusia diajak hidup selaras dengan alam dan menjaga rasa hormat terhadap kehidupan.

Sementara dalam Zen, yang ditekankan bukan kemampuan melihat dunia gaib, melainkan kejernihan batin dan kesadaran penuh terhadap momen saat ini. Semakin tenang pikiran seseorang, semakin ia mampu memahami kehidupan dengan lebih dalam.

Karena itu, baik dalam Hindu Bali, filsafat Barat, maupun tradisi Jepang, ada benang merah yang sama:

hal yang tidak terlihat tidak selalu harus ditakuti atau dikejar-kejar,
tetapi disikapi dengan kesadaran, keseimbangan, dan kebijaksanaan.

Pada akhirnya, kedalaman spiritual seseorang tidak diukur dari seberapa banyak ia mengaku melihat hal-hal gaib, melainkan:

  • seberapa jernih pikirannya
  • seberapa baik perilakunya
  • dan seberapa besar manfaat yang ia berikan kepada kehidupan di sekitarnya.

Gagasan Universal

Pemahaman ini ternyata tidak hanya ada di Bali.

Dalam tradisi yoga di India, dikenal konsep mata ketiga (ajna chakra), yaitu pusat kesadaran yang memungkinkan seseorang memahami realitas lebih dalam.

Dalam filsafat Barat, Plato menggambarkan manusia seperti hidup di dalam gua, hanya melihat bayangan dari kenyataan (Allegory of the Cave).

Kedua contoh ini menunjukkan satu hal yang sama: keterbatasan manusia bukan pada dunia, tetapi pada cara ia memahami dunia.

Makna untuk Kehidupan Sekarang

Cerita leluhur ini bukan untuk membandingkan masa lalu dan masa kini, seolah-olah manusia dulu lebih unggul. Justru sebaliknya, ia mengajak kita menyadari apa yang masih kita miliki hari ini.

Kita mungkin tidak melihat dewa secara langsung, tetapi kita masih memiliki kemampuan penting:

* membedakan yang benar dan salah

* merasakan kedamaian

* memahami makna hidup

* berbuat baik kepada sesama

Dalam ajaran dharma, kemampuan-kemampuan inilah bentuk nyata dari “melihat”.

Bersyukur dan Memaksimalkan Hidup

Bersyukur dalam Hindu tidak berhenti pada ucapan. Ia terwujud dalam cara kita menggunakan hidup.

Bersyukur berarti:

* berpikir dengan jernih

* bertindak dengan bijak

* memanfaatkan kesempatan untuk kebaikan

Cerita ini mengingatkan kita bahwa, meskipun kita tidak memiliki kemampuan seperti yang digambarkan dalam cerita, kita tetap memiliki sesuatu yang sangat berharga: kesadaran untuk memilih dan bertindak.

Penutup

Ketika cerita itu kembali terdengar di merajan, mungkin kita tidak perlu lagi sibuk mempertanyakan apakah semuanya benar secara harfiah.

Yang lebih penting adalah memahami arah yang ingin ditunjukkan oleh para leluhur.

Bahwa kehidupan tidak sesederhana yang terlihat oleh mata.
Bahwa selalu ada kedalaman yang belum sepenuhnya dipahami manusia.
Dan bahwa keterbatasan manusia bukan berarti semua yang belum dipahami harus ditolak ataupun ditakuti.

Baik dalam ajaran Hindu Bali, filsafat Barat, tradisi Jepang, maupun psikologi modern, semuanya mengingatkan hal yang serupa:

manusia perlu belajar melihat hidup dengan lebih sadar, lebih jernih, dan lebih bijaksana.

Pada akhirnya, kedalaman spiritual bukan ditentukan oleh kemampuan melihat hal-hal gaib, melainkan oleh bagaimana seseorang menjalani hidupnya:

  • apakah pikirannya jernih
  • tindakannya membawa kebaikan
  • dan kehadirannya memberi manfaat bagi sesama

Dan bisa jadi, apa yang dulu disebut “melihat dewa” itu bukan sekadar tentang penglihatan,

melainkan tentang kemampuan manusia untuk kembali menyadari kedalaman hidup yang selama ini sering terlupakan.

Om Shanti Shanti Shanti Om


Daftar Bacaan

  • Bhagavad Gita
    Tentang divya cakṣu (penglihatan ilahi) dan kesadaran spiritual.
  • Isha Upanishad
    Mengenai kebenaran yang tertutup oleh kesadaran manusia.
  • Lontar Bali:
    • Jnana Tattwa
    • Wrhaspati Tattwa
    • berbagai lontar tutur mengenai sekala–niskala.
  • Johari Window
    Konsep psikologi modern tentang wilayah kesadaran manusia.
  • PlatoAllegory of the Cave
    Tentang keterbatasan manusia dalam memahami realitas.
  • Tradisi Zen dan Shinto Jepang
    Mengenai kejernihan batin, kesadaran, dan hubungan manusia dengan alam.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

PESAN SUCI UNTUK PARA PENERUS DHARMA DI GRIYA WARIH IDA BETARA LELANGIT

Ekadasi dalam Lensa Bali: Melampaui Stereotip, Menemukan Akar Sejati

Kemanunggalan Sastra Nyepi- Klarifikasi Sastra: Meluruskan Pemahaman Lontar Sundarigama melalui Validasi Naskah Autentik