Postingan

“Ada” dan “Tidak Ada”: Apakah Tuhan Diciptakan oleh Pikiran Manusia?

“Ada” dan “Tidak Ada”: Apakah Tuhan Diciptakan oleh Pikiran Manusia? Sebuah Dharma Tetimbang Peranda Berdasarkan Penelusuran Sastra Hindu dan Lontar Tattwa Bali Om Swastyastu Mengiringi pertanyaan yang sangat mendalam dari semeton Walaka di Pagepuk sastra mengenai makna “ada” dan “tidak ada”, kapankah Tuhan itu ada, serta apakah ada sesuatu sebelum Tuhan, izinkan Peranda menyampaikan sebuah Dharma Tetimbang, berdasarkan penelusuran yang sastra Hindu dan beberapa lontar tattwa Bali. Tulisan singkat ini bukan dimaksudkan sebagai jawaban yang mutlak, melainkan sebagai bahan tetimbang dharma untuk direnungkan bersama. Apabila terdapat kekurangan dalam penafsiran maupun penyampaian, dengan segala kerendahan hati mohon koreksi dan penyempurnaan dari para Guru, Sulinggih, akademisi, dan semeton yang lebih memahami. Sebab dalam tradisi Hindu, kebenaran sejati senantiasa dicari melalui sastra, penalaran yang benar (yukti), pengalaman rohani (anubhava), serta tuntunan para guru (guru upadeśa). A...

Burung Cendrawasih sebagai Simbol Pengantar Roh: Ibas-Ibas dalam Upacara Ngaben Bali

Burung Cendrawasih sebagai Simbol Pengantar Roh: Ibas-Ibas dalam Upacara Ngaben Bali Abstrak Dalam upacara Ngaben (pembakaran jenazah) di Bali, khususnya yang menggunakan bade (menara pengusung), terdapat struktur ritual bernama Ibas-Ibas berbentuk burung Cendrawasih yang dibawa oleh seorang sulinggih (pendeta) di puncak menara (“Memanjang”). Simbol ini memiliki makna filosofis mendalam dalam prosesi pitra yadnya (upacara untuk leluhur). Tulisan ini membahas landasan sastra, fungsi, dan makna burung Cendrawasih sebagai sarana pengantar roh (atman) menuju alam leluhur (pitraloka) dalam perspektif Hindu Dharma Bali. 1. Pendahuluan Upacara Ngaben merupakan bagian dari Pitra Yadnya, yaitu korban suci yang ditujukan kepada roh leluhur. Dalam prosesi ini, bade (menara bertingkat) berfungsi sebagai wahana simbolis untuk membawa jenazah menuju tempat pembakaran. Di puncak bade, sering terdapat replika burung Cendrawasih yang disebut Ibas-Ibas (atau Paksi Walaka). Struktur ini tidak hanya...

Purnama dan Tilem: Cahaya Candra, Cahaya Kesadaran

Purnama dan Tilem: Cahaya Candra, Cahaya Kesadaran Memahami Makna Pemujaan Purnama dan Tilem  Oleh: Ki Kakua, Kemang Pratama, 13 Juli 2026 Om Swastyastu, Setiap lima belas hari sekali umat Hindu memasuki dua hari suci, yaitu Purnama dan Tilem . Pada Purnama, bulan bersinar penuh menerangi malam. Sebaliknya, pada Tilem bulan tidak tampak oleh mata. Sering muncul pertanyaan, mengapa pada Tilem kita tetap sembahyang, padahal cahaya bulan tidak terlihat? Bukankah Candra sedang “menghilang”? Pertanyaan ini membawa kita pada pemahaman yang lebih dalam. Sesungguhnya, umat Hindu tidak menyembah bulan sebagai benda langit. Yang dipuja adalah Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Candra, yang melambangkan kesejukan, ketenangan, kesucian pikiran, keteraturan waktu, dan cahaya kesadaran. Bulan hanyalah simbol yang mengingatkan kita akan kebesaran-Nya. Dalam Ṛgveda X.90.13 (Puruṣa Sūkta) dinyatakan: candramā manaso jātaḥ “Bulan lahir dari pikiran Sang Puruṣa.” ...

Menghadapi Kematian Tanpa Takut, Menjalani Kehidupan Tanpa Tunda

Menghadapi Kematian Tanpa Takut, Menjalani Kehidupan Tanpa Tunda Oleh: Ki Kakua, Jakarta 11 Juli 2026 Om Swastyastu  Dalam tradisi umat Hindu, upacara Atma Wedana atau Ngaben sering kali dilewati dengan rasa duka yang mendalam. Kehilangan orang yang disayangi terkadang menyisakan ketakutan dalam hati kita tentang apa sesungguhnya kematian itu. Beberapa guru spiritual kontemporer, seperti Sadhguru, menggunakan ungkapan bahwa “bagi mereka yang mengenal hakikat diri, kematian hanyalah sebuah ilusi terhadap identitas yang keliru”. Ungkapan ini sejalan dengan ajaran Bhagavad Gita mengenai kekekalan Atman, meskipun perlu dipahami secara tepat agar tidak menimbulkan salah tafsir. Sebab, yang dimaksud ilusi bukanlah bahwa kematian tubuh fisik itu tidak terjadi. Bagi badan kasar ( Sthula Sarira ), kematian adalah peristiwa nyata ( vyavaharika satya ). Kekeliruan manusia yang sebenarnya adalah anggapan bahwa seluruh diri kita lenyap dan musnah total saat tubuh fisik mati. Sastra suci ...