Dharma yang Terbelenggu: Mengapa Bhisma dan Drona Diam Saat Drupadi Dihina?
Om Swastiastu 🙏
Ampura, wawu Ki Kakua polih meseliahan—menelusuri, merenungkan, dan menggugat. Tulisan ini lahir sebagai tanggapan atas pertanyaan mendalam mengenai fragmen agung Mahabharata: Mengapa sosok sesakti Bhisma dan Guru Drona seolah tak mencegah kezaliman terhadap Drupadi di balai pertemuan?
Semoga ulasan sederhana ini presida menjadi pencerahan bagi kegelisahan kita bersama.
*DRUPADI: ANTARA SISTEM, HUKUM, DAN DIAMNYA PARA PENDEKAR*
*Apakah Karena Sistem dan Hukum Saat Itu Memang Begitu?*
Ya, benar. Secara hukum positif saat itu, Drupadi sah dijadikan taruhan karena Yudhistira sudah kalah bertahap, mulai dari harta, kerajaan, saudara, hingga dirinya sendiri. Dalam hukum saat itu, seorang suami berhak mempertaruhkan apa yang dianggap miliknya, termasuk istri. Apalagi aturan main sudah disepakati di awal permainan.
Namun Drupadi melontarkan pertanyaan hukum yang tidak terpikirkan oleh para Korawa. Ia bertanya, "Apakah Yudhistira telah kehilangan dirinya sendiri sebelum ia mempertaruhkan aku?" Jika ia sudah kalah dan berstatus budak, maka sebenarnya ia tidak punya hak untuk mempertaruhkan siapa pun, termasuk Drupadi. Pertanyaan inilah yang mengguncang ruang sidang dan membuat para tetua terdiam.
*Mengapa Bhisma dan Drona Tak Bisa Berkutik?*
Mereka tidak bisa berbuat banyak karena beberapa alasan:
* Pertama, mereka terikat sumpah dan loyalitas. Bhisma telah bersumpah untuk membela takhta Hastinapura, siapapun yang mendudukinya. Duryodhana saat itu adalah penguasa de facto, sehingga Bhisma wajib diam meski hatinya hancur. Drona terikat hutang budi karena Hastinapura memberinya hidup dan kehormatan.
* Kedua, mereka mengakui legitimasi permainan. Sejak awal, tidak satu pun dari mereka yang protes saat Yudhistira kalah bertahap. Mereka diam saat harta dirampas, diam saat kerajaan hilang, diam saat saudara-saudara Pandawa jadi budak. Dengan diam di setiap tahap, mereka kehilangan moral untuk protes di tahap terakhir.
* Ketiga, mereka tidak punya dasar hukum untuk membela Drupadi. Aturan saat itu tidak mengakomodasi pertanyaan tentang hak perempuan atau status seseorang yang sudah kalah. Pertanyaan Drupadi terlalu baru dan revolusioner untuk sistem hukum yang ada.
Mereka tahu ini salah. Bhisma menangis, Drona menunduk. Tapi mereka terbelenggu oleh sistem yang mereka sendiri akui dan jaga.
*Penutup: Karma dari Hukum yang Bisu*
Pada akhirnya, apa yang terjadi di balairung Hastinapura bukan sekadar kekalahan judi, melainkan lonceng kematian bagi sebuah peradaban. Bhisma, Drona, dan para tetua Kuru mungkin berlindung di balik tameng prosedur dan sumpah setia, namun di balik diamnya mereka, tersimpan kesadaran pahit bahwa mereka sedang menyaksikan awal dari kiamat bagi wangsa Kuru.
Sebagai pemegang otoritas ilmu, mereka tidak mungkin lupa, justru mereka sadar sepenuhnya bahwa dengan membiarkan Dharma dihancurkan oleh formalitas, mereka sedang mengundang kehancuran itu ke depan pintu rumah mereka sendiri. Hal ini selaras dengan prinsip fundamental dalam Manu Smriti:
> "Dharmo eva hato hanti, dharmo rakshati rakshitah."
> (Dharma yang dihancurkan akan menghancurkan; Dharma yang dijaga akan menjaga.)
Dengan membiarkan Drupadi dilecehkan atas nama "legalitas," para pendekar itu sesungguhnya sedang merobek jaring pelindung mereka sendiri. Kehancuran Kurukshetra di masa depan bukanlah kutukan tanpa sebab, melainkan konsekuensi logis dari pilihan mereka untuk bungkam ketika hukum kehilangan hati nuraninya.
Drupadi tidak kalah oleh dadu; ia dikalahkan oleh kesepakatan kolektif untuk membiarkan kezaliman berjalan atas nama prosedur yang sah. Dan sejarah mencatat, sistem yang gagal melindungi kehormatan manusianya, tak akan pernah bisa menyelamatkan dirinya sendiri dari api kehancuran.
Pada akhirnya, kisah ini mungkin hadir bukan untuk menghakimi mereka yang diam, melainkan sebagai cermin bagi kita: beranikah kita bersuara saat hukum mulai kehilangan nuraninya, ataukah kita akan menjadi barisan pendekar selanjutnya yang hanya bisa menunduk menyaksikan keadilan binasa?
Om shanti shanti shanti
Ki Kakua, Gunung siku 14 Februari 2026
Komentar
Posting Komentar