Makna Lambang Aksara Suci Ongkara serta Penggunaannya dalam Mantra Bali

Makna Lambang Aksara Suci Ongkara serta Penggunaannya dalam Mantra Bali


Oleh : Ki Kakua, Gunungsiku 10-4-26


Om Swastyastu 


I. Makna Simbol-simbol dalam Aksara Suci (Modre)


Sebelum memahami mantra-mantra yang menggunakan Ong, Em, dan Ong panjang, kita perlu mengetahui terlebih dahulu makna filosofis dari unsur-unsur pembentuk aksara suci (ongkara) berdasarkan ajaran lontar dan tradisi lisan di Bali. Dari gambar yang disertakan, kita dapat merangkum beberapa simbol penting sebagai berikut. 





1. Nada


  • Nada adalah getaran suara tertinggi yang bersumber dari ruang kosong (Akasa).
  • Dalam filosofi, Nada terletak di Akasa (langit) dan merupakan awal mula dari segala suara.
  • Nada juga menjadi pangkal (sumber) dari air (Toya) sebagai unsur kehidupan.
  • Secara spiritual, Nada melambangkan aspek Parama Siwa (Tuhan sebagai kesadaran tertinggi yang tak terwujud).


2. Windu


  • Windu (atau Bindu) adalah titik pusat, sumber segala energi.
  • Windu terletak di Sunia (kekosongan) dan menjadi pangkal dari Amerta (air kehidupan) serta angin.
  • Windu melambangkan aspek Sada Siwa (Tuhan dalam keadaan selalu memberi anugerah).


3. Ardha Candra


  • Ardha Candra (bulan sabit) adalah simbol dari unsur air dan kesuburan.
  • Ardha Candra terletak di Pertiwi (bumi) dan menjadi pangkal api (Agni).
  • Secara spiritual, Ardha Candra melambangkan aspek Siwa (Tuhan sebagai pelebur sekaligus rahmat).


4. Angka Tiga / O Kara


  • O Kara (aksara ‘O’) juga disebut sebagai Sang Hyang Tiga Sakti, yaitu Triaksara yang berada di dalam diri manusia (jro).
  • Tiga aksara suci itu adalah A, U, Ma yang merupakan cikal bakal dari segala mantra.


5. Hulu Tedung


  • Hulu Tedung adalah tanda diakritik yang memanjangkan bunyi vokal.
  • Hulu Tedung menjadi pangkal dari Wangkawa (getaran yang meluas).
  • Efek spiritualnya adalah Tatur Gumi Sumedang, yaitu keseimbangan alam semesta yang tercapai melalui getaran suara yang panjang.


6. Ulu Ricem (Em)


  • Dari gambar kedua, Ulu Ricem dijelaskan sebagai “Langit memberi Panugrahan (anugerah) pada Bumi” dan diucapkan “ÉM” (Em).
  • Ini menegaskan bahwa Em adalah suara yang membawa anugerah dari langit ke bumi.
  • Mantra yang dicontohkan:

  Ong Pranamyā Bhaskarēm Dewēm, Sarwa Klēsā Winaśanēm, Pranamyā Dityā Sewarthēm, Bhukti Mukti Wara Pradēm

  (Kurang lebih berarti: “Aku bersujud kepada Dewa yang bercahaya seperti matahari, yang menghancurkan segala kotoran; aku bersujud kepada Yang Maha Kuasa, semoga memberikan anugerah kebahagiaan dan kebebasan.”)


7. Ulu Candra (Ong)


  • Ulu Candra adalah tanda bulan sabit yang diletakkan di atas aksara ‘O’ membentuk ᬑᬁ (Ong).
  • Berbeda dengan Ulu Ricem yang menghasilkan bunyi “Em”, Ulu Candra menghasilkan bunyi “Ong” yang lebih menekankan pada aspek immanen (Tuhan yang hadir di alam semesta).


Dengan pemahaman ini, kita bisa masuk ke penggunaan praktis ongkara dalam mantra-mantra Bali.



II. Ong Tunggal dengan Bija Mantra: Ong Ang, Ong Ung, Ong Mang (Tri Murti)


Kelompok mantra pertama adalah yang paling umum dalam pemujaan sehari-hari, yaitu mantra untuk Tri Murti: Brahma (Sang Pencipta), Wisnu (Sang Pemelihara), dan Iswara (Sang Pelebur). Bentuknya adalah Ong (ᬑᬁ) diikuti oleh sebuah bija mantra (mantra benih) yang spesifik, lalu nama dewa, dan ditutup dengan ya namah (hamba bersujud).


a. Ong Ang Brahmane Ya Namah


Aksara Bali: ᬑᬁ ᬅᬁ ᬩ᭄ᬭᬄᬫᬡᬾ ᬦᬫᬄ

Dibaca: Ong Ang Brahmane Ya Namah


  • Ong di sini adalah Ongkara Ulu Candra (ᬑᬁ), dilafalkan “Ong” pendek. Ia berfungsi sebagai pranava universal yang membuka ruang suci.
  • Ang ditulis sebagai ᬅᬁ, yaitu aksara A yang diberi Ulu Candra. Ini adalah bija mantra untuk Brahma. Getaran “Ang” mengandung energi penciptaan, api, dan awal mula segala sesuatu.
  • Makna keseluruhan: “Ong, (aku memuja) bija Ang yang adalah Engkau Brahma, hamba bersujud.”


b. Ong Ung Wisnu Ya Namah


Aksara Bali: ᬑᬁ ᬉᬁ ᬯᬶᬱ᭄ᬡᬸ ᬦᬫᬄ

Dibaca: Ong Ung Wisnu Ya Namah


  • Ung ditulis sebagai ᬉᬁ, yaitu aksara U dengan Ulu Candra. Bija mantra untuk Wisnu. Getarannya mengandung energi pemeliharaan, air, dan kehidupan yang berkelanjutan.
  • Makna: “Ong, (aku memuja) bija Ung yang adalah Engkau Wisnu, hamba bersujud.”


c. Ong Mang Iswara Ya Namah


Aksara Bali: ᬑᬁ ᬫᬁ ᬇᬲ᭄ᬯᬭ ᬦᬫᬄ

Dibaca: Ong Mang Iswara Ya Namah


  • Mang ditulis sebagai ᬫᬁ, yaitu aksara Ma dengan Ulu Candra. Bija mantra untuk Iswara (aspek Siwa sebagai pelebur). Getarannya mengandung energi peleburan, api pembebas, dan kembali ke asal.
  • Makna: “Ong, (aku memuja) bija Mang yang adalah Engkau Iswara, hamba bersujud.”


Catatan penting: Dalam ketiga mantra ini, hanya digunakan satu Ong di awal. Hal ini menunjukkan bahwa Tri Murti adalah manifestasi Tuhan yang masih dalam tataran saguna (berwujud dan dapat dipuja secara langsung), sehingga cukup disapa dengan satu getaran pranava.


III. Em Ong: Gabungan Ulu Ricem dan Ulu Candra


Mantra jenis ini diawali dengan Em (dari ongkara Ulu Ricem, ᬑᬀ) lalu diikuti Ong (Ulu Candra, ᬑᬁ). Contoh lengkapnya adalah mantra untuk Dewa Pratiṣṭa (Tuhan yang ditegakkan dalam arca atau bangunan suci):


Aksara Bali: ᬑᬀ ᬑᬁ ᬤᬾᬯ ᬧ᭄ᬭᬢᬶᬱ᭄ᬝ ᬦᬫᬄ

Dibaca: Em Ong Dewa Pratiṣṭa Ya Namah


a. Pelafalan “Em” dan hubungannya dengan “Om”


Di Bali, ongkara Ulu Ricem (ᬑᬀ) secara tradisional dilafalkan sebagai “Em” (bukan “Om” seperti di India). Namun secara filosofis dan fungsional, “Em” ini setara dengan “Om” dalam tradisi Sanskerta. Keduanya merujuk pada getaran suci universal yang sama. Dalam ajaran lisan Aguron guron, penggunaan “Em” lebih umum, sementara “Om” lebih dikenal dalam teks Weda. Kedua lafal ini dapat saling melengkapi tanpa mengurangi makna hakiki. Seperti dijelaskan dalam gambar, Ulu Ricem adalah “Langit memberi anugerah pada Bumi”, yang diucapkan “ÉM”.


b. Fungsi “Em” dan “Ong” dalam satu mantra


  • Em (atau Om) di posisi pertama berfungsi sebagai pranava yang merujuk pada realitas tertinggi yang tidak terucapkan (nirguna brahman). Ia melambangkan kesadaran kosmis mutlak sebelum segala bentuk. Dalam praktik, “Em” bertindak sebagai pengantar universal yang menghubungkan mantra lokal Bali dengan otoritas Weda.
  • Ong di posisi kedua berfungsi sebagai sapaan hormat (wacika) yang secara khusus ditujukan kepada Dewa Pratiṣṭa. Di sini, “Ong” melambangkan Tuhan yang mulai “turun” ke dalam suara dan getaran, sehingga bisa dipanggil dan diajak berkomunikasi (saguna brahman).


c. Makna filosofis “Em Ong”


Susunan “Em” diikuti “Ong” menunjukkan tingkatan kesadaran yang sangat tinggi. Pertama, kita mengheningkan cipta ke dalam getaran awal yang keluar dari kekosongan (Em). Kemudian, dari getaran itu kita membangun suara yang lebih nyata (Ong) untuk memanggil kehadiran Tuhan dalam bentuk pratima (arca). Mantra ini mengajarkan bahwa Dewa Pratiṣṭa sejatinya adalah pengejawantahan dari Em yang transenden.


Analoginya: “Em” seperti membuka pintu istana dan memberi tahu bahwa kita datang dengan hormat atas nama kerajaan agung (Weda). “Ong” adalah sapaan langsung kepada raja (Dewa Pratiṣṭa) setelah kita diperkenankan masuk. Mantra jenis ini jarang ditemukan dalam keseharian; ia khusus digunakan dalam upacara pratiṣṭa (menghidupkan arca) atau mepasupati (menurunkan energi Tuhan).



IV. Ong Ganda: Perbedaan Ong Biasa dan Ong Panjang (dengan Tedong)


Kelompok mantra berikutnya adalah yang menggunakan dua kali “Ong” sebelum nama dewa, yaitu untuk Mahadewa, Sada Rudra, Sada Siwa, dan Parama Siwa. Dalam penulisan aksara Bali, kedua “Ong” tersebut bisa sama-sama menggunakan bentuk biasa (ᬑᬁ), atau bisa pula yang pertama biasa dan yang kedua menggunakan bentuk panjang (ᬒᬁ) yang disebut Ongkara dengan Tedong pada vokal O. Perbedaan ini membawa konsekuensi spiritual yang penting.


a. Dua bentuk Ongkara


  • Ong biasa (ᬑᬁ): Aksara dasar ‘O’ pendek dengan Ulu Candra. Dilafalkan “Ong” dalam satu ketukan. Getarannya relatif pendek, cocok untuk mantra harian atau pemujaan biasa.
  • Ong panjang (ᬒᬁ): Aksara dasar ‘O’ panjang () dengan Ulu Candra. Dilafalkan “Oong” atau “Ong” panjang (dua ketukan). Bentuk ini setara dengan ᬑᬁᬵ (Ongkara Ulu Candra ditambah Tedong di akhir). Getarannya lebih panjang, lebih dalam, dan lebih kuat. Ia digunakan untuk memberikan kekuatan sabda (wacika tawas) dan penghormatan yang lebih tinggi. Dalam filosofi, Hulu Tedong menjadi pangkal Wangkawa (getaran meluas) dan efek Tatur Gumi Sumedang (keseimbangan alam).


b. Fungsi dalam susunan “Ong biasa – Ong panjang”


Ambil contoh mantra untuk Mahadewa:


  • Bentuk biasa (dua Ong biasa): ᬑᬁ ᬑᬁ ᬫᬳᬵᬤᬾᬯ ᬦᬫᬄ (Ong Ong Mahadewa Ya Namah)
  • Bentuk kuat (Ong biasa + Ong panjang): ᬑᬁ ᬒᬁ ᬫᬳᬵᬤᬾᬯ ᬦᬫᬄ (Ong – Oong – Mahadewa Ya Namah)


Penjelasan untuk bentuk kuat:


  • Ong pertama (biasa) berperan sebagai pranava universal, pembuka ruang suci, melambangkan Tuhan dalam aspek nirguna (tanpa sifat).
  • Ong kedua (panjang) berperan sebagai sapaan hormat yang diperkuat. Perpanjangan getaran menandakan kerendahan hati yang lebih dalam sekaligus kekuatan doa yang lebih besar. Ia secara khusus ditujukan kepada Mahadewa (Tuhan Yang Maha Agung).


Jika kita bandingkan dengan susunan dua kali Ong biasa, maka susunan Ong biasa + Ong panjang menunjukkan tingkatan yang lebih halus dan lebih intens. Analoginya: Ong biasa seperti memanggil “Wahai, Tuan…” dengan suara biasa; Ong panjang seperti memanggil “Wahai, Tuuuuan…” dengan suara yang ditarik, penuh hormat dan kekuatan.


c. Penerapan pada mantra-mantra tinggi


Pola yang sama berlaku untuk mantra-mantra berikut:


  • Ong – Oong – Sada Rudra Ya Namah (untuk aspek Tuhan yang garang namun welas asih)
  • Ong – Oong – Sada Siwa Ya Namah (untuk Tuhan pemberi anugerah)
  • Ong – Oong – Parama Siwa Ya Namah (untuk Tuhan sebagai kesadaran tertinggi)


Dalam praktiknya, penggunaan Ong panjang (ᬒᬁ) tidak wajib; Ong biasa ganda sudah cukup untuk pemujaan umum. Namun, pada ritual besar yang membutuhkan getaran kuat (seperti pujawali, odalan, atau upacara oleh sulinggih), Ong panjang lebih dianjurkan. Keduanya sah dan saling melengkapi sesuai dengan tingkat wewenang spiritual dan kebutuhan ritual.


V. Keseluruhan Contoh Mantra dalam Satu Rangkaian


Untuk memudahkan pemahaman, berikut adalah contoh mantra lengkap dari yang terendah hingga tertinggi dalam hal penggunaan ongkara, ditulis dalam aksara Bali sesuai dengan kaidah yang telah dijelaskan.


Kelompok Tri Murti (satu Ong biasa):


1. Mantra untuk Brahma:

   ᬑᬁ ᬅᬁ ᬩ᭄ᬭᬄᬫᬡᬾ ᬦᬫᬄ

   Ong Ang Brahmane Ya Namah

2. Mantra untuk Wisnu:

   ᬑᬁ ᬉᬁ ᬯᬶᬱ᭄ᬡᬸ ᬦᬫᬄ

   Ong Ung Wisnu Ya Namah

3. Mantra untuk Iswara:

   ᬑᬁ ᬫᬁ ᬇᬲ᭄ᬯᬭ ᬦᬫᬄ

   Ong Mang Iswara Ya Namah


Kelompok Dewa Pratiṣṭa (Em + Ong):


1. Mantra untuk Dewa Pratiṣṭa:

   ᬑᬀ ᬑᬁ ᬤᬾᬯ ᬧ᭄ᬭᬢᬶᬱ᭄ᬝ ᬦᬫᬄ

   Em Ong Dewa Pratiṣṭa Ya Namah


Kelompok manifestasi tinggi (dua Ong – biasa atau kuat):


1. Mantra untuk Mahadewa (bentuk biasa):

   ᬑᬁ ᬑᬁ ᬫᬳᬵᬤᬾᬯ ᬦᬫᬄ

   Ong Ong Mahadewa Ya Namah

2. Mantra untuk Mahadewa (bentuk kuat dengan Ong panjang):

   ᬑᬁ ᬒᬁ ᬫᬳᬵᬤᬾᬯ ᬦᬫᬄ

   Ong – Oong – Mahadewa Ya Namah

3. Pola yang sama untuk Sada Rudra:

   ᬑᬁ ᬑᬁ ᬲᬤᬵᬭᬸᬤ᭄ᬭ ᬦᬫᬄ (biasa)

   ᬑᬁ ᬒᬁ ᬲᬤᬵᬭᬸᬤ᭄ᬭ ᬦᬫᬄ (kuat)

4. Untuk Sada Siwa:

   ᬑᬁ ᬑᬁ ᬲᬤᬵᬲᬶᬯ ᬦᬫᬄ (biasa)

   ᬑᬁ ᬒᬁ ᬲᬤᬵᬲᬶᬯ ᬦᬫᬄ (kuat)

5. Untuk Parama Siwa:

   ᬑᬁ ᬑᬁ ᬧᬭᬫᬲᬶᬯ ᬦᬫᬄ (biasa)

   ᬑᬁ ᬒᬁ ᬧᬭᬫᬲᬶᬯ ᬦᬫᬄ (kuat)


VI. Perbedaan Penggunaan Ongkara Ulu Ricem dan Ulu candra dalam Dasa bayu


Dalam lontar Arga Patra, ditemukan perbedaan redaksi mantra Dasa Bayu antara satu naskah dengan naskah lainnya. Berdasarkan kajian terhadap dua varian yang muncul, perbedaan tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua kemungkinan bentuk, yang dalam uraian ini disebut sebagai Varian 1 dan Varian 2.


Varian 1, Aksara sucinya diawali dengan ᬑᬀᬑᬁ yang dibaca "Em Ooong". Kemudian dilanjutkan dengan rangkaian I A Ka Sa Ma Ra La Wa Ya, dan ditutup dengan ᬑᬁ (dibaca Ong) serta Nama Namah Swaha (ᬦᬫ ᬦᬫᬄ ᬲ᭄ᬯᬵᬳᬵ).


Makna dari bentuk ini adalah penekanan pada getaran awal yang panjang dan sengau (Em dan Ooong) sebagai simbol pembuka yang kuat untuk membangkitkan energi prana sebelum mengucapkan inti mantra Dasa Bayu. Penutup dengan Ong yang lebih pendek diikuti Swaha menandakan pengembalian energi ke dalam kesadaran yang tenang sekaligus persembahan total.


Varian 2,Aksara sucinya diawali dengan ᬑᬁᬒᬁ yang dibaca "Ong Ooong". Kemudian dilanjutkan rangkaian I A Ka Sa Ma Ra La Wa Ya, dan ditutup dengan ᬑᬁ (Ong) serta Nama Namah Swaha (ᬦᬫ ᬦᬫᬄ ᬲ᭄ᬯᬵᬳᬵ).


Makna dari bentuk ini adalah penggabungan tiga getaran suci (Ong sebagai pencipta, Om sebagai pemelihara, Ooong sebagai pelebur) di awal mantra, sehingga mantra Dasa Bayu yang diucapkan berada dalam naungan tiga kekuatan utama. Penutup dengan Ong dan Swaha menegaskan kembali kesatuan segala sesuatu serta mempersembahkan seluruh kekuatan Dasa Bayu kepada Tuhan.


Kedua varian ini tidak ada yang lebih benar atau lebih salah. Perbedaan muncul karena tradisi aguron-guron Oleh karena itu, seseorang dipersilakan menggunakan salah satu varian yang sesuai dengan ajaran yang diterima dari gurunya masing-masing. Yang terpenting tetaplah kesucian hati, ketulusan, dan konsistensi dalam bhakti.


VII. Kesimpulan


Baik itu Em, Om, Ong biasa, maupun Ong panjang—semua adalah bentuk getaran suci yang sama, yaitu pranava yang melambangkan Tuhan Yang Maha Esa. Perbedaan bentuk dan lafal bukanlah pertentangan, melainkan tingkatan tangga suara yang disesuaikan dengan kebutuhan ritual, tingkat penghormatan, dan wewenang spiritual seseorang.


  • Ong tunggal dengan bija Ang, Ung, Mang (ᬅᬁ, ᬉᬁ, ᬫᬁ) cukup untuk memuja Tri Murti (Brahma, Wisnu, Iswara).
  • Em Ong (ᬑᬀ ᬑᬁ) menggabungkan universalitas anugerah langit (Ulu Ricem) dengan sapaan lokal Bali (Ong), khusus untuk upacara pratiṣṭa.
  • Ong ganda (dua kali ᬑᬁ) digunakan untuk manifestasi Tuhan yang lebih agung seperti Mahadewa, Sada Rudra, Sada Siwa, dan Parama Siwa. Sedangkan penggunaan Ong biasa + Ong panjang (ᬑᬁ ᬒᬁ) memberikan kekuatan doa yang lebih dalam (sesuai fungsi Hulu Tedong) dan penghormatan yang lebih tinggi.



Om Shanti shanti shanti


Daftar Pustaka


Lontar Arga Patra drue Griya.  (tidak diterbitkan).


Scribd. (2024). 2 Gambar dari AKSARA DASAR I. Diakses dari https://id.scribd.com/document/743330420/AKSARA-DASAR-I


Blogspot. (2012). Aksara Bali. Diakses dari http://smbbali.blogspot.com/2012/10/aksara-bali.html


Kumparan. (2021). Tulisan Aksara Bali Om Swastiastu Lengkap dengan Maknanya. Diakses dari https://kumparan.com/berita-terkini/tulisan-aksara-bali-om-swastiastu-lengkap-dengan-maknanya-1wsdWkKtneJ


Pujashanti. (2026). Simbol Suci OM Makna dan penjelasan lengkap. Diakses dari https://pujashanti.web.id/veda/makna-simbol-suci-om


Suamba, I. B. P. (2019). Tantrayana di Bali: Aksara Mysticism dan Etika di dalam Teks Tutur. Dalam Tuhan dan Alam: Membaca Ulang Gagasan Panteisme dan Tantrayana di Nusantara (hlm. 174-209). Yogyakarta: Sulur Pustaka. Diakses dari http://repository.pnb.ac.id/5134/


Supartika, P. (2018). Ongkara atau Omkara? Berikut Penjelasannya Menurut Kajian Lontar Bali. Tribun-bali.com. Diakses dari https://bali.tribunnews.com/2018/07/12/ongkara-atau-omkara-berikut-penjelasannya-menurut-kajian-lontar-bali


Telusur.balitrekker.com. (2022). Mantra Tri Sandya Beserta Artinya. Diakses dari https://telusur.balitrekker.com/mantra-tri-sandya-beserta-artinya


Vidyadharma.my.id. (n.d.). Eka Aksara. Diakses dari https://vidyadharma.my.id/index.php?title=Eka_Aksara&oldid=373


Tulisan ini disusun berdasarkan diskusi dan sumber-sumber di atas, serta disesuaikan dengan gambar-gambar yang disertakan (Nada, Windu, Ardha Candra, Hulu Tedung, Ulu Ricem). Semoga bermanfaat.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PESAN SUCI UNTUK PARA PENERUS DHARMA DI GRIYA WARIH IDA BETARA LELANGIT

CUNTAKA: Sakralitas yang Terganggu

Ekadasi dalam Lensa Bali: Melampaui Stereotip, Menemukan Akar Sejati