Memahami dan Merayakan Hari Suci Saraswati & Banyu Pinaruh
Memahami dan Merayakan Hari Suci Saraswati & Banyu Pinaruh
Panduan Lengkap Makna, Tujuan, Simbol, Doa, dan Praktik bagi Umat Hindu
Oleh :Ki Kakua, Gunungsiku 4-4-26
Om Swastyastu
Nilai Universal: Ilmu Pengetahuan Dihormati oleh Semua Agama dan Budaya
Sebelum mendalami perayaan Saraswati, penting untuk menyadari bahwa penghargaan terhadap ilmu pengetahuan bersifat universal dan telah lama menjadi bagian dari setiap peradaban besar. (Perayaan serupa di India, misalnya, akan kita bahas lebih lanjut pada poin 7.)
- Agama Hindu, melalui Dewi Saraswati dan perayaan Saraswati yang telah berlangsung ribuan tahun, adalah salah satu yang pertama dan paling konsisten dalam memuliakan ilmu sebagai anugerah Tuhan.
- Demikian pula agama-agama lain seperti Islam (dengan perintah iqra’), Buddha (pencerahan sebagai pengetahuan tertinggi), Yahudi dan Kristen (akal budi sebagai anugerah Tuhan) juga memiliki tradisi keilmuan yang kuat.
- Budaya Yunani Kuno, Tiongkok (Konfusianisme), serta kearifan lokal Afrika dan Maya juga menempatkan ilmu sebagai fondasi peradaban.
- Peringatan global seperti Hari Sains Sedunia (10 November) dan Hari Buku Sedunia (23 April) menunjukkan bahwa dunia internasional mengakui ilmu sebagai jalan menuju perdamaian dan pembangunan.
Dengan demikian, umat Hindu merayakan Saraswati sebagai bagian dari kesadaran asli yang telah diwariskan leluhur, sekaligus sejalan dengan gerakan kemanusiaan universal yang menjunjung tinggi kebijaksanaan.
1. Makna dan Tujuan: Menghormati Ilmu sebagai Anugerah Tertinggi
Kata Saraswati secara harfiah berarti "sesuatu yang mengalir", melambangkan ilmu pengetahuan yang tiada henti dan harus terus dipelajari sepanjang hayat. Dewi Saraswati adalah manifestasi Tuhan Yang Maha Esa sebagai pelindung, pelimpah pengetahuan (widya), kesadaran, dan seni sastra. Anugerah-Nyalah yang menjadikan manusia beradab dan berbudaya.
Hari Raya Saraswati diperingati setiap 210 hari sekali (enam bulan sekali) tepat pada Saniscara (Sabtu) Umanis wuku Watugunung. Hari raya ini memperingati "turunnya" ilmu pengetahuan suci (Pawedalan Sang Hyang Aji Saraswati) untuk membawa umat manusia menuju kemakmuran, kemajuan, perdamaian, dan peradaban yang lebih tinggi.
2. Dasar Sastra dan Simbolisme: Fondasi dan Filosofi Luhur
A. Dasar Sastra: Lontar Sundarigama dan Weda
Landasan utama pelaksanaan Hari Raya Saraswati bersumber dari kitab suci Hindu, yang terdiri dari Weda (Sruti) dan Smerti seperti Lontar Sundarigama.
Kitab Suci Weda (Sruti) sebagai sumber utama agama Hindu telah memuja Dewi Saraswati sebagai dewi pengetahuan. Dalam Reg Weda II.41.16, terdapat sloka suci yang berbunyi:
"Ambitame, naditame, devitame, Saraswati,
Aprasasta iva smasi, prasastim amba nas krdhi."
Terjemahan:
"Wahai Saraswati, Engkaulah yang terbaik di antara para ibu, terbaik di antara sungai-sungai, dan terbaik di antara para dewi. Kami ini tidak terkenal (tanpa keutamaan), berilah kami ketenaran (kebijaksanaan), wahai Ibu."
Sloka ini menunjukkan bahwa Dewi Saraswati dipuja sebagai pemberi kebijaksanaan dan keutamaan, yang mengangkat manusia dari ketidaktahuan menuju kemuliaan.
Selain itu, kitab Sarasamuccaya dengan tegas mengingatkan agar manusia jangan sampai terpuruk karena kebodohan, sementara Weda menyatakan akan sangat "takut kepada orang yang bodoh dan tidak berpengetahuan."
Landasan ritual dan tata cara yang lebih spesifik untuk perayaan Saraswati diatur secara rinci dalam Lontar Sundarigama (Smerti). Kitab ini secara jelas menyebutkan:
"Saniscara Umanis Watugunung, pujawali Bhatari Saraswati, Widhi widhananya; suci, peras, daksina linggih, kembang payas, kembang cane, kembang biasa, banten sesayut Saraswati prangkatan putih kuning saha raka tan sah wangi-wangi saha dulurannya."
Lontar ini juga menetapkan pantangan untuk tidak membaca dan menulis sebagai bentuk pemujaan dan introspeksi, serta mengatur bahwa pemujaan Dewi Saraswati harus dilakukan pada pagi atau tengah hari. Semua aturan ini menjadi pedoman utama umat dalam melaksanakan rangkaian upacara Saraswati.
B. Makna Simbolis Dewi Saraswati dan Perlengkapannya
- Warna Putih → Dasar ilmu pengetahuan yang suci dan murni.
- Kitab/Pustaka di Tangan Kiri → Seluruh ilmu sekuler yang berguna bagi kehidupan duniawi.
- Veena (Sitar) → Seni, budaya, harmoni pikiran, dan suara suci AUM.
- Aksamala (Tasbih) → Ilmu spiritual yang menuntun manusia menuju kebahagiaan abadi (moksha).
- Angsa (Hamsa) → Kemampuan menyaring dan memilih mana yang baik dan buruk.
C. Simbol Suci Lainnya
- Lambang Cicak → Jajan Saraswati berisi dua ekor cicak melambangkan keseimbangan alam (pria-wanita) dan sifat netral ilmu pengetahuan. Suara cicak dipercaya sebagai pertanda kebenaran dan doa yang didengar.
- Rwa Bhineda → Konsep dualisme yang mengajarkan bahwa ilmu harus digunakan dengan bijaksana untuk kebaikan.
3. Mantra Pujaan Saraswati (Saraswati Stawa) dan Maknanya
Dalam pelaksanaan puja yang dipimpin oleh sulinggih atau dwijati, biasanya dilantunkan sebuah pujian suci yang disebut Saraswati Stawa. Meskipun teks mantra tidak dituliskan di sini, berikut adalah makna mendalam yang terkandung di dalamnya:
Pujian ini diawali dengan rasa hormat yang dalam kepada Dewi Saraswati, yang dipuja sebagai pemberi anugerah dan pemenuh keinginan luhur akan pengetahuan. Pemuja memohon agar segala kesempurnaan (sidhi) tercapai dalam hidupnya.
Selanjutnya, pujian mengajak kita untuk bersujud kepada semua dewa dan menghormati Jiwa Agung (Paramatma). Dalam setiap wujud kesempurnaan, pemuja menyadari bahwa semua itu adalah anugerah dari Tuhan yang maha kuasa.
Dewi Saraswati digambarkan sebagai sosok yang bernaung di atas padma (teratai), dengan sinar suci yang menerangi kegelapan. Beliau selalu memberikan tempat suci bagi mereka yang tekun menuntut ilmu. Sebagai putri Brahma dan Dewi agung yang dipuja oleh Brahma sendiri, beliau dikenal sebagai pemberi kejayaan dan kebijaksanaan.
Puncak dari mantra ini adalah permohonan anugerah berupa:
- Kepandaian dalam puisi dan sastra (kawia)
- Kemampuan berdebat dan berpikir tajam (wyaksana, tarka)
- Penguasaan terhadap Veda, Sastra, dan Purana
- Kesempurnaan dalam memanfaatkan waktu (kala sidhi)
Pada bagian akhir, pemuja memohon perlindungan dari kelalaian dan segala bentuk kebodohan yang menghambat kemajuan spiritual.
Dengan memahami makna mantra ini, umat diajak untuk tidak sekadar melafalkan, tetapi menghayati setiap pujian sebagai permohonan tulus agar dianugerahi kecerdasan, kebijaksanaan, dan ketekunan dalam belajar.
4. Cara Melaksanakan Peringatan: Panduan Langkah Demi Langkah
A. Persiapan dan Rangkaian Upacara
Umat mempersiapkan diri dengan membersihkan tempat suci (pura, sekolah, rumah) dan menata semua kitab suci, buku, lontar, serta alat tulis untuk diupacarai. Sarana upacara (banten) utama adalah banten Saraswati, daksina, beras wangi, dan air kumkuman (air yang diisi kembang wangi).
Bagi umat yang tidak sempat atau tidak bisa meracik banten sendiri—baik di Bali maupun di luar Bali—umumnya tersedia banten Saraswati jadi yang dapat diperoleh dengan cara matur dana punia (memberi penggantian biaya secara sukarela) kepada yang menyediakan. Di Bali, banten ini banyak tersedia di Griya serati, pasar-pasar tradisional atau sekitar jaba pura. Demikian pula di luar Bali, biasanya warga Hindu setempat yang pandai membuat banten akan menyediakannya dengan penggantian material dan tenaga secara ikhlas. Ini sangat membantu umat yang bekerja, tinggal di kosan, atau memiliki keterbatasan waktu.
Doa Hati yang Dapat Dilantunkan saat Memulai Puja Saraswati (diucapkan dalam hati sambil memegang banten atau menyalakan dupa):
"Ya Tuhan, dalam manifestasi-Mu sebagai Dewi Saraswati, hamba bersujud memuja-Mu. Hamba memohon anugerah pengetahuan sejati, kepandaian dalam sastra, ketajaman berpikir, penguasaan kitab suci, serta kesempurnaan dalam memanfaatkan waktu. Semoga sinar suci-Mu yang bernaung di atas teratai menerangi hati hamba, lindungilah hamba dari kelalaian dan kebodohan, dan karuniakanlah kejayaan serta kebijaksanaan sebagaimana Engkau dipuja sebagai putri Brahma. Om, Shanti, Shanti, Shanti, Om."
B. Waktu Pelaksanaan Pemujaan
Pemujaan utama dilakukan dari pagi hingga sebelum tengah hari. Waktu ini adalah saat terbaik memohon anugerah ilmu karena Dewi Saraswati diyakini sedang berada di bumi. Namun, persembahyangan bersama di pura umum sering berlangsung hingga malam menyesuaikan jadwal.
Bagi umat di luar Bali yang memiliki keterbatasan waktu karena jam kerja, pemujaan tetap dapat dilakukan pada sore hari setelah pulang kerja. Yang terpenting adalah niat tulus dan tetap memperhatikan pantangan tidak membaca/menulis hingga tengah hari. Jika sama sekali tidak sempat ke pura, umat dapat melakukan persembahyangan mandiri di rumah atau kosan dengan menghadap ke sumber cahaya (lilin/diyang) sebagai simbol Dewi Saraswati.
Tirta Saraswati biasanya disediakan di pura. Setelah selesai puja bersama atau mandiri di pura, umat dapat memohon tirta kepada pemangku. Air suci ini kemudian dibawa pulang untuk dipercikkan ke tempat belajar, buku-buku, dan alat tulis sebagai simbol penyucian. Jika sembahyang di rumah, umat bisa membuat tirta sederhana dengan mencampur air bersih dan bunga putih sambil memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi.
C. Pantangan dan Anjuran
- Pantangan (hingga tengah hari): Tidak membaca, tidak menulis, tidak menggunakan kitab suci sebagai bacaan. Ini sebagai bentuk penghormatan dan ruang untuk meditasi.
- Setelah tengah hari: Aktivitas membaca dan menulis diperbolehkan kembali, bahkan dianjurkan sebagai bentuk mengamalkan anugerah.
- Malam hari: Dianjurkan melakukan malam sastra (membaca kitab suci) dan samadhi (meditasi).
D. Target yang Dapat Dicapai
Umat dapat merasakan kedamaian batin, meningkatkan kecerdasan spiritual, dan memperkuat tekad untuk menuntut ilmu secara tulus.
5. Banyu Pinaruh: Puncak Pembersihan Diri Setelah Saraswati
Keesokan harinya (Minggu Paing wuku Sinta), umat melanjutkan perayaan ke puncaknya dengan Hari Raya Banyu Pinaruh. Nama ini berasal dari Banyu (air) dan Pinaruh (pengetahuan), sehingga bermakna "air pengetahuan".
A. Tujuan Banyu Pinaruh
Menyucikan diri agar siap menerima dan mengamalkan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh. Ini adalah bentuk pembersihan batin (niskala) setelah menerima anugerah intelektual.
B. Tempat dan Tata Cara Melukat
Umat melakukan melukat (mandi suci) di sumber air alami seperti pantai, danau, atau pertemuan dua sungai (campuhan). Sebelum memulai, biasanya menghaturkan canang sari dan pejati sebagai bentuk permohonan izin. Saat mandi suci, umat berdoa dan membersihkan seluruh tubuh, diyakini dapat menghanyutkan segala kotoran spiritual (mala, dosa, papa, wigna).
Namun, bagi umat di luar Bali yang sulit menemukan sumber air alami, atau bagi yang di Bali sekalipun namun terkendala jarak, waktu, kondisi fisik, atau situasi lain yang tidak memungkinkan, tidak perlu bersedih. Cukup dengan keramas di rumah menggunakan air bersih yang dicampur sedikit bunga (jika ada) sambil berniat menyucikan diri. Lakukan keramas dengan penuh kesadaran, membaca doa sederhana memohon ampunan dan pembersihan batin. Esensi dari melukat adalah menyucikan pikiran sebelum mengamalkan ilmu, bukan semata-mata tempatnya. Selama hati tulus dan niat lurus, penyucian dengan keramas di rumah pun sah dan bermakna.
C. Makna Filosofis
Setelah menerima ilmu (Saraswati), pikiran harus dibersihkan dari kekotoran agar ilmu dapat mengalir dan diamalkan dengan baik. Ini sesuai dengan ajaran Bhagavadgita: badan dibersihkan dengan air, pikiran dibersihkan dengan ilmu pengetahuan.
D. Target yang Dapat Dicapai
Umat dapat merasakan kesegaran lahir dan batin, pikiran menjadi jernih, hati menjadi tenang, serta siap mengamalkan ilmu pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.
6. Intisari Panduan: Pesan untuk Umat
Panduan ini mengajak kita semua untuk tidak hanya merayakan Hari Raya Saraswati sebagai ritual tahunan. Mari jadikan momen ini sebagai penguatan kesadaran kolektif bahwa tanpa ilmu yang suci dan bermanfaat, hidup manusia kehilangan arah.
Dengan memahami makna mantra pujaan, menjalankan pantangan dengan kesadaran, dan melanjutkan dengan pembersihan diri di Banyu Pinaruh, kita benar-benar menyucikan lahir dan batin. Sebagaimana dunia global mengakui Hari Sains, Hari Buku, dan tradisi keilmuan dalam setiap agama, umat Hindu melalui Saraswati turut berkontribusi pada peradaban yang menjunjung tinggi kebijaksanaan.
7. Melintasi Samudra: Perayaan Saraswati di India (Vasant Panchami)
Di India, perayaan untuk Dewi Saraswati dan ilmu pengetahuan dikenal dengan nama Vasant Panchami (atau Basant Panchami). Ini adalah festival besar yang menandai datangnya musim semi dan secara khusus didedikasikan untuk memuja Dewi Saraswati sebagai simbol pengetahuan, kebijaksanaan, musik, dan seni.
Ritual Puja yang Terkenal
Ritual utamanya adalah Saraswati Puja. Ini adalah hari yang sangat istimewa, terutama bagi para pelajar, akademisi, dan seniman. Mereka memuja patung atau gambar Dewi Saraswati yang didandani dengan pakaian kuning atau putih, warna yang melambangkan energi, kemakmuran, dan kebijaksanaan.
- Akshar Abhyasam: Ritual yang paling khas adalah memulai pelajaran pertama bagi anak-anak dengan menulis huruf pertama di atas papan tulis, nampan berisi butiran beras, atau di udara. Ini seperti "upacara naik kelas" pertama dalam kehidupan, memohon berkah kelancaran belajar.
- Hari Tanpa Belajar: Menariknya, meskipun identik dengan ilmu, pada hari ini ada tradisi untuk tidak membaca atau menulis sama sekali, sebagai bentuk penghormatan total kepada sang dewi. Pantangan ini sangat mirip dengan perayaan Saraswati di Bali.
Beberapa wilayah di India Selatan juga merayakan pemujaan ini saat Navratri, yang disebut Ayudha Puja, di mana alat-alat kerja, buku, dan perlengkapan seni juga ikut diupacarai.
Mantra Populer dan Terjemahannya
Dalam Saraswati Puja, beberapa mantra berikut kerap dilantunkan:
- Om Aim Saraswatyai Namaha: Mantra ini berfungsi untuk membuka cakrawala pemikiran, meningkatkan fokus belajar, dan membangkitkan kreativitas.
- Om Saraswatyai Vidmahe, Brahmaputri Dhimahi, Tanno Saraswati Pracodayat:
Mantra ini adalah doa untuk memohon bimbingan dan inspirasi dari Dewi Saraswati agar selalu berada di jalan yang benar dalam menuntut ilmu.
Perbedaan dengan Perayaan di Bali
Meskipun esensinya sama, ada perbedaan mendasar dalam waktu dan tradisi lokal. Di India, perayaan ini sangat terkait dengan musim semi dan dirayakan setiap tahun pada bulan Magha (sekitar Januari-Februari). Sementara itu, di Bali, Hari Raya Saraswati dirayakan setiap 210 hari sekali berdasarkan sistem penanggalan Pawukon, dan dirangkai dengan upacara Banyu Pinaruh keesokan harinya untuk menyucikan diri.
Semoga panduan ini bermanfaat dan menginspirasi kita semua untuk terus menuntut ilmu dengan hati yang bersih dan niat yang tulus.
Om Shanti, Shanti, Shanti, Om.
Daftar Pustaka
- Reg Weda II.41.16 dan VII.95.2 – Kitab suci Weda (Sruti) yang memuja Dewi Saraswati sebagai dewi pengetahuan dan kebijaksanaan.
- Lontar Sundarigama – Kitab Smerti yang mengatur tata cara pelaksanaan Hari Raya Saraswati, termasuk waktu, sarana upacara, dan pantangan.
- Sarasamuccaya – Kitab etika Hindu yang mengingatkan pentingnya ilmu pengetahuan dan bahaya kebodohan.
- Devi Bhagavata Purana – Kitab Purana yang menjadi landasan perayaan Vasant Panchami (Saraswati Puja) di India.
Komentar
Posting Komentar