Mengapa Abu Widuh Menjadi Bhasma Suci?

Mengapa Abu Widuh Menjadi Bhasma Suci?


Membaca Kembali Ajaran Lontar Ṛṣi Śāsana Catur Yuga tentang Iduh Bhang sebagai Bhasma Tiga


Oleh: Ki Kakua, Gunungsiku 3-7-2026


Om Swastyastu.

Di Bali, tradisi nginang atau widuh masih dapat dijumpai hingga kini, terutama di kalangan orang tua. Campuran daun sirih, buah pinang, kapur sirih, gambir, bahkan pada beberapa daerah ditambah cengkih atau tembakau, telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sejak zaman dahulu. Bagi sebagian orang, nginang merupakan warisan leluhur, sementara bagi yang lain menjadi kebiasaan sehari-hari yang dipercaya memberi manfaat bagi kesehatan.

Namun, pernahkah kita bertanya, mengapa abu dari tradisi nginang justru digunakan sebagai Bhasma Tiga dalam sebuah lontar suci? Bukankah abu biasanya dipandang sebagai sisa pembakaran yang tidak lagi memiliki nilai?

Pertanyaan inilah yang dijawab oleh Lontar Ṛṣi Śāsana Catur Yuga. Lontar ini mengajarkan bahwa iduh bhang, yaitu abu yang berasal dari tradisi nginang dan telah disucikan melalui mantra, dipergunakan sebagai Bhasma Tiga (Tripuṇḍra), yaitu tanda suci yang dikenakan oleh seorang sādhaka pada dahi, dada, dan kedua bahu.

Sekilas ajaran ini mungkin terdengar sederhana. Namun, di baliknya tersimpan filsafat yang sangat dalam. Lontar tidak sedang mengajarkan umat untuk membiasakan nginang, melainkan menunjukkan bahwa sesuatu yang berasal dari kehidupan sehari-hari dapat menjadi simbol kesucian apabila dipersembahkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Melalui Bhasma Tiga, seorang sādhaka diingatkan agar setiap hari menyucikan pikiran, menata hati, dan memperbaiki perbuatannya. Dengan demikian, ia tidak lagi menciptakan sebab-sebab yang melahirkan pāpa karma.

Tulisan ini tidak membahas Bhasma secara umum, melainkan secara khusus mengulas ajaran Lontar Ṛṣi Śāsana Catur Yuga mengenai Bhasma Tiga. Pembaca yang ingin memahami pengertian Bija dan Bhasma, perbedaan keduanya, dasar sastra, serta praktik penggunaannya dalam tradisi Hindu Bali dapat membaca tulisan penulis sebelumnya berjudul 

“Hakikat Bija dan Basma: Menanam dan Menyemai Benih Kedewataan.”

Tulisan tersebut dapat dibaca pada blog penulis melalui tautan berikut:

https://kikakua.blogspot.com/2026/03/hakikat-bija-dan-basma-menanam-dan.html

 Dengan demikian, pembahasan dalam tulisan ini dapat lebih difokuskan pada pesan spiritual yang terkandung dalam lontar, khususnya mengapa iduh bhang (abu nginang) dijadikan Bhasma suci sebagai sarana penyucian diri.

Lalu, mengapa Bhasma dikenakan pada dahi, dada, dan kedua bahu? Mengapa Lontar Ṛṣi Śāsana Catur Yuga menyebutnya sebagai pangilang wighna papa-lesaning sarira, yaitu sarana menghilangkan rintangan dan kekotoran yang melekat pada diri?

Untuk menemukan jawabannya, marilah kita membaca kembali ajaran luhur yang diwariskan oleh para ṛṣi melalui lontar ini.

Apa yang Diajarkan oleh Lontar?

Pembahasan mengenai Bhasma Tiga diawali dengan penjelasan tentang bahan yang digunakan beserta mantra penyuciannya.

Iti bhasma-tigga, sa., iduh bhang, rna.


Prajapati nirwighna ya namah.


OM Caturmuka dewabyuha sarwwa rogga ya namah.


OM Brahmadipati nirmmala ya namah.

Selanjutnya lontar menyatakan:

Phalanya ingangge bhasma-tiga, luputing lara rogga wighna apan iduh bhang bhasmanira Bhatara Brahma.

Terjemahannya sebagai berikut:

“Inilah tata cara Bhasma Tiga. Bahannya adalah iduh bhang. Manfaat memakai Bhasma Tiga adalah terbebas dari penyakit, gangguan, dan rintangan karena abu tersebut merupakan Bhasma Bhatara Brahma.”

Kalimat ini menjadi dasar yang sangat penting untuk dipahami. Lontar tidak memuliakan kebiasaan nginang itu sendiri. Yang dimuliakan adalah iduh bhang yang telah melalui proses penyucian dengan mantra sehingga menjadi Bhasma, lambang kesucian Bhatara Brahma.

Prinsip seperti ini sesungguhnya sangat dikenal dalam kehidupan umat Hindu. Air biasa menjadi tirtha setelah disucikan melalui mantra. Bunga biasa menjadi puspa persembahan setelah dihaturkan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Demikian pula abu biasa menjadi Bhasma setelah dipersembahkan dan disucikan.

Dengan demikian, kesucian tidak terletak pada bendanya semata, tetapi pada proses penyucian, niat yang tulus, serta penghormatan kepada Tuhan yang menyertainya.

Mengapa Bhasma Dipakai pada Dahi, Dada, dan Bahu?

Setelah menjelaskan asal-usul Bhasma, Lontar Ṛṣi Śāsana Catur Yuga kemudian menguraikan tata cara pemakaiannya.

Iduh bhang genahakena ring lekoking tangan, lamun abhasma-tiga ring ati, temuli ring bawu kiwa tengen. Angangge bhasma-tiga duluring buddhi rahayu, aywa cawuh.

Terjemahannya:

“Abu suci diletakkan terlebih dahulu pada telapak tangan, kemudian dikenakan sebagai Bhasma Tiga pada dada, dilanjutkan ke bahu kiri dan kanan. Memakai Bhasma Tiga hendaknya disertai budi yang baik dan pikiran yang suci, jangan dengan batin yang kacau.”

Sebelum menjelaskan manfaat Bhasma, lontar terlebih dahulu mengingatkan bahwa pemakaiannya harus disertai buddhi rahayu, yaitu budi pekerti yang baik, hati yang bersih, dan pikiran yang jernih. Pesan ini sangat penting karena menunjukkan bahwa kesucian tidak lahir dari abu yang dioleskan pada tubuh, melainkan dari perubahan batin orang yang memakainya.

Selanjutnya lontar menjelaskan letak pemakaian Bhasma.

Nyan Sanghyang Bhasma-tiga, MA ring rahi, A ring ati, U ring bawu.

Artinya:

“Inilah Bhasma Tiga: aksara Ma ditempatkan pada dahi, aksara A pada dada, dan aksara U pada kedua bahu.”

Sekilas, petunjuk ini tampak seperti tata cara ritual biasa. Namun apabila direnungkan lebih dalam, ketiga bagian tubuh tersebut sesungguhnya menggambarkan tiga unsur penting dalam kehidupan manusia.

Dahi merupakan lambang pikiran. Dari pikiran lahir pengetahuan, pertimbangan, keyakinan, dan keputusan. Pikiran yang baik akan mengarahkan seseorang kepada kebajikan, sedangkan pikiran yang dipenuhi kebencian, keserakahan, dan kesombongan akan menjadi awal munculnya berbagai penderitaan.

Dada merupakan lambang hati. Di sanalah tumbuh kasih sayang, keikhlasan, pengendalian diri, tetapi juga hawa nafsu, iri hati, dan kemarahan. Hati yang bersih akan melahirkan ketulusan, sedangkan hati yang dikuasai nafsu akan mudah mendorong manusia melakukan perbuatan yang bertentangan dengan dharma.

Bahu melambangkan perbuatan dan tanggung jawab. Bahu adalah simbol kekuatan untuk bekerja, mengabdi, dan melaksanakan kewajiban. Apa yang dipikirkan dan dirasakan pada akhirnya akan diwujudkan melalui tindakan.

Walaupun Lontar Ṛṣi Śāsana Catur Yuga tidak secara langsung menyebut istilah Tri Kaya Parisudha, ajaran yang disampaikannya memiliki makna yang selaras, yaitu pentingnya menjaga kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan. Pikiran yang bersih akan melahirkan ucapan yang baik, dan ucapan yang baik akan diwujudkan melalui tindakan yang benar.

Dengan demikian, ketika seorang sādhaka mengenakan Bhasma Tiga, sesungguhnya ia sedang mengingatkan dirinya sendiri agar setiap hari menjaga tiga hal tersebut. Bhasma bukan sekadar tanda suci yang terlihat oleh orang lain, melainkan sebuah pengingat agar hidup senantiasa berada di jalan dharma.

Hal ini juga menjelaskan mengapa lontar mengawali tata cara pemakaian Bhasma dengan kalimat “duluring buddhi rahayu, aywa cawuh”. Tanpa budi yang baik, tanda suci hanyalah hiasan pada tubuh. Sebaliknya, apabila dipakai dengan kesadaran dan diiringi perubahan perilaku, Bhasma menjadi pengingat yang terus-menerus membimbing seseorang untuk memperbaiki dirinya.

Inilah salah satu keindahan ajaran para ṛṣi. Ritual tidak pernah berdiri sendiri. Setiap simbol selalu diarahkan untuk membentuk watak, memperhalus budi pekerti, dan mendekatkan manusia kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Benarkah Bhasma Menghapus Dosa?

Bagi sebagian orang, bagian ini mungkin menimbulkan pertanyaan. Lontar Ṛṣi Śāsana Catur Yuga menyebutkan bahwa Bhasma Tiga dapat menghapus berbagai dosa, bahkan dosa-dosa yang tergolong sangat berat. Apakah ini berarti seseorang cukup mengoleskan Bhasma pada tubuh, lalu seluruh dosanya lenyap?

Untuk menjawabnya, marilah kita membaca isi lontar dengan saksama.

Pada bagian Bhasma yang dikenakan di dahi disebutkan:

…amateni wwang, amateni wwang yowana, amateni Brahmana, amateni Dewa Guru, amungkah Prasaddha, amateni guru, angalap drewening Hyang, amangan tan pahuna, angluhuri sasajening Hyang…

Terjemahannya:

”…membunuh manusia, membunuh orang muda, membunuh Brahmana, membunuh Dewa Guru, merusak tempat suci, durhaka kepada guru, mengambil milik Hyang, memakan persembahan yang belum semestinya, serta menyalahgunakan persembahan suci.”

Selanjutnya, pada bagian Bhasma yang dikenakan di dada, lontar menyebutkan berbagai pelanggaran kesusilaan dan kekerasan, antara lain:

…angrabenin rarangan, amighnanin kakyang, angrabenin padaha lanang, angrabenin wong kanya durung ngrajaswala… amateni rare kari jero weteng, amateni wong ameteng, amateni wong tan padosa, amateni wong sadhu…

Terjemahannya:

”…melakukan hubungan dengan perempuan yang terlarang, mengganggu istri orang lain, melakukan hubungan sesama laki-laki, menggauli gadis yang belum dewasa, membunuh bayi dalam kandungan, membunuh perempuan yang sedang hamil, membunuh orang yang tidak bersalah, serta membunuh orang yang saleh.”

Kemudian pada bagian Bhasma yang dikenakan di bahu disebutkan:

…mamaling drewen Sang Panditha, anunwani alas mwang umah, amahala yasa, angrempak papunyan, angruggaken Prasaddha…

Terjemahannya:

”…mencuri milik seorang pandita, menyerobot hutan dan ladang, merampas hak milik orang lain, mengambil harta warisan, serta merusak tempat-tempat suci.”

Apabila kita hanya membaca sepintas, mungkin timbul anggapan bahwa Bhasma adalah sarana yang dapat menghapus semua dosa secara otomatis. Namun, jika diperhatikan lebih dalam, lontar sebenarnya sedang mengajarkan sesuatu yang jauh lebih mendalam.

Perhatikan pola yang disusun oleh para ṛṣi.

Pada bagian dahi, dosa-dosa yang disebutkan banyak berkaitan dengan hilangnya penghormatan kepada Tuhan, guru, dan kesucian. Semua itu berawal dari cara berpikir yang menyimpang.

Pada bagian dada, yang banyak disebut justru pelanggaran yang didorong oleh nafsu, kebencian, kemarahan, dan kekejaman. Semua itu bersumber dari hati yang tidak terkendali.

Sedangkan pada bagian bahu, lontar lebih banyak menyebut perbuatan seperti mencuri, merampas, dan merusak. Ini adalah tindakan nyata yang dilakukan oleh tubuh.

Susunan ini menunjukkan bahwa lontar tidak sedang membuat daftar dosa secara acak. Para ṛṣi mengelompokkannya sesuai dengan sumber munculnya perbuatan tersebut: pikiran yang keliru, hati yang tidak terkendali, dan perbuatan yang menyimpang.

Dengan demikian, makna Bhasma Tiga menjadi semakin jelas. Ketika dikenakan di dahi, seseorang diingatkan agar membersihkan pikirannya. Ketika dikenakan di dada, ia diingatkan untuk mengendalikan hati dan hawa nafsunya. Ketika dikenakan di bahu, ia diingatkan agar setiap perbuatannya selalu berjalan sesuai dharma.

Bhasma bukanlah penghapus hukum karma. Karma tetap bekerja sesuai dengan hukum sebab dan akibat sebagaimana diajarkan dalam agama Hindu. Namun, Bhasma menjadi pengingat suci agar manusia menghentikan sebab-sebab yang melahirkan karma buruk.

Inilah mengapa sebelum menjelaskan manfaat Bhasma, lontar telah memberikan syarat yang sangat penting:

Angangge bhasma-tiga duluring buddhi rahayu, aywa cawuh.

“Memakai Bhasma Tiga hendaknya disertai budi pekerti yang baik dan pikiran yang suci, jangan dengan batin yang kacau.”

Kalimat ini menjadi kunci untuk memahami seluruh ajaran Bhasma Tiga. Ritual tanpa perubahan batin tidak akan membawa manfaat. Sebaliknya, ketika simbol suci itu dipakai dengan kesadaran, disertai tekad untuk memperbaiki diri, maka setiap hari ia menjadi pengingat agar manusia tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Mungkin inilah sebabnya para ṛṣi memilih abu sebagai simbol penyucian. Abu adalah hasil akhir dari sesuatu yang telah dibakar. Dalam ajaran Śiwa, yang dibakar bukan hanya kayu atau persembahan, tetapi juga kesombongan, kemarahan, keserakahan, dan berbagai kekotoran batin. Setelah semuanya terbakar, yang tersisa hanyalah abu sebagai lambang kesadaran akan hakikat kehidupan.

Makna Bhasma bagi Umat Hindu Masa Kini

Tradisi nginang telah dikenal di Nusantara sejak berabad-abad bahkan ribuan tahun yang lalu. Tidak hanya di Bali, kebiasaan ini juga ditemukan di berbagai daerah di Indonesia maupun di sejumlah negara Asia.

Penelitian modern menunjukkan bahwa beberapa bahan yang digunakan dalam tradisi nginang, seperti daun sirih, gambir, dan cengkih, mengandung senyawa yang memiliki sifat antibakteri, antioksidan, serta bermanfaat bagi kesehatan rongga mulut. Namun di sisi lain, ilmu kedokteran juga mengingatkan bahwa kebiasaan mengunyah pinang, terutama bila dicampur tembakau dan dilakukan dalam jangka panjang, dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit pada rongga mulut.

Karena itu, ajaran Lontar Ṛṣi Śāsana Catur Yuga tidak perlu dipahami sebagai anjuran untuk membiasakan nginang. Yang menjadi perhatian utama lontar bukanlah kebiasaan mengunyah sirih, melainkan makna Bhasma sebagai simbol penyucian diri.

Sesungguhnya, pesan yang disampaikan para ṛṣi masih sangat relevan hingga sekarang. Setiap hari manusia berhadapan dengan berbagai godaan: amarah, keserakahan, iri hati, kebencian, kesombongan, dan hawa nafsu. Semua itu bermula dari pikiran, berkembang di dalam hati, lalu diwujudkan dalam perbuatan. Apabila tidak dikendalikan, dari sanalah lahir berbagai pāpa karma yang membawa penderitaan, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.

Melalui Bhasma Tiga, lontar mengajarkan sebuah latihan batin yang sederhana namun sangat mendalam. Ketika Bhasma dikenakan pada dahi, seseorang diingatkan untuk menjaga pikirannya agar tetap jernih. Ketika dikenakan pada dada, ia diingatkan agar memelihara hati yang bersih, penuh kasih, dan mampu mengendalikan hawa nafsu. Ketika dikenakan pada kedua bahu, ia diingatkan agar setiap tindakan yang dilakukan selalu berada di atas jalan dharma.

Dengan demikian, Bhasma bukan sekadar tanda suci yang tampak dari luar, melainkan sebuah komitmen batin yang diperbarui setiap hari. Ia menjadi pengingat agar manusia senantiasa mengurangi sebab-sebab lahirnya karma buruk dan memperbanyak perbuatan yang membawa kebajikan.

Tidak mengherankan apabila pada bagian penutupnya, Lontar Ṛṣi Śāsana Catur Yuga menegaskan:

Yan Sang Saddhaka mangkin kinrahayu, mwang sajanma sawangsanya, yan makreti rahayu, iti bhasma-tiga pangilang wighna papa-lesaning sarira.

Artinya:

“Apabila seorang sādhaka senantiasa memelihara kehidupan yang baik dan suci, demikian pula keluarganya, maka Bhasma Tiga menjadi sarana menghilangkan rintangan dan kekotoran yang melekat pada dirinya.”

Kalimat ini merupakan kunci untuk memahami seluruh ajaran Bhasma Tiga.

Lontar tidak mengatakan bahwa abu mampu menghapus hukum karma. Sebaliknya, lontar menegaskan bahwa manfaat Bhasma hanya akan dirasakan oleh mereka yang memelihara kehidupan yang baik (makreti rahayu). Dengan kata lain, Bhasma menjadi bermakna apabila disertai perubahan sikap, penyucian batin, dan kesungguhan menjalankan dharma.

Pada akhirnya, abu mengajarkan satu pelajaran yang sangat sederhana sekaligus sangat mendalam. Semua yang kita banggakan di dunia ini pada waktunya akan kembali menjadi abu. Harta, kedudukan, kecantikan, bahkan tubuh ini pun tidak akan kekal. Yang tetap mengikuti perjalanan jiwa hanyalah hasil dari pikiran, perkataan, dan perbuatan kita sendiri.

Karena itu, setiap kali seorang sādhaka mengenakan Bhasma Tiga, sesungguhnya ia sedang memperbarui janjinya kepada dirinya sendiri: menjaga pikiran agar tetap bersih, menata hati agar tetap penuh kasih, dan mengarahkan setiap perbuatannya agar selalu berjalan di atas jalan dharma.

Mungkin inilah makna terdalam dari ajaran Lontar Ṛṣi Śāsana Catur Yuga. Bhasma bukan sekadar abu suci yang melekat pada tubuh, melainkan pengingat agar manusia setiap hari berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Ketika pikiran menjadi lebih jernih, hati menjadi lebih tulus, dan perbuatan menjadi lebih benar, maka sebab-sebab lahirnya pāpa karma pun semakin berkurang.

Sastra menjadi hidup bukan hanya ketika dibaca, tetapi ketika dipahami, direnungkan, dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Om Śāntiḥ Śāntiḥ Śāntiḥ Om.

Daftar Pustaka

Suwidja, Ida Bagus. Ṛṣi Śāsana Catur Yuga. Denpasar: Depdikbud RI, 1991/1992.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

CUNTAKA: Sakralitas yang Terganggu

PESAN SUCI UNTUK PARA PENERUS DHARMA DI GRIYA WARIH IDA BETARA LELANGIT

Ekadasi dalam Lensa Bali: Melampaui Stereotip, Menemukan Akar Sejati